Rebo Wekasan
Hari ini adalah hari Rabu tanggal 12 Agustus 2026 bertepatan dengan tanggal 28 Shofar 1448 H. Menurut penanggalan kalender Jawa Pranoto Mongso, hari Rabu ini bertepatan dengan hari Rebo Legi, 27 Sapar 1960. Artinya hari Rabu ini merupakan hari Rabu terakhir di bulan Sapar.
Rabu terakhir bulan Sapar sering disebut dengan Rebo Wekasan. Rebo Wekasan adalah istilah bahasa Jawa untuk hari Rabu terakhir di bulan Sapar. Mengapa istilah Rebo Wekasan ini sangat terkenal di masyarakat Jawa? Ada apa dengan Rebo Wekasan sehingga mayoritas masyarakat Jawa yang beragama Islam mengenalnya bahkan merayakannya. Merayakan disini bukan seperti merayakan datangnya hari raya Idul Fitri atau perayaan Agustusan dengan berbagai macam acara yang menyenangkan.
Banyak sekali tulisan dan ulasan baik di media sosial maupun media online terkait Rebo Wekasan. Yang mengulas pun tidak hanya kalangan biasa akan tetapi dari kalangan ulama pun membahasnya lengkap dengan asal-usul, dalil dan keutamaan. Dalilnya pun tidak hanya dari al-Qur'an dan Hadits akan tetapi juga dari berbagai macam pendapat para ulama yang tersebar di berbagai macam turats. Pembaca bisa memilih tulisan yang mendetail atau hanya tulisan sederhana, semua tersedia di internet. Apalagi sekarang zaman AI (artificial intellegence), anda bisa bertanya AI maka AI akan langsung menjawab bahkan jawaban AI bisa melebihi ulama atau profesor sekalipun lengkap dengan dalil dan kutipan referensinya. AI sangat pintar dan mendetil jika ditanya sesuatu, syaratnya perintah yang dimasukkan atau prompt sesuai dengan algoritma AI. Jika prompt tidak sesuai, maka AI tidak akan bisa menjawab secara tepat dan detil.
Rebo Wekasan sudah menjadi tradisi bagi mayoritas masyarakat Islam di tanah Jawa ini. Menurut beberapa informasi, Rebo Wekasan adalah waktu dimana Allah SWT menurunkan malapetaka sejumlah 320 ribu dalam tahun tersebut. Malapetaka tersebut terdiri dari berbagai macam. Agar selamat dari malapetaka yang diturunkan oleh Allah SWT pada hari Rebo Wekasan maka dianjurkan untuk memperbanyak sedekah. Tidak hanya sedekah bahkan ada ulama yang menyarankan untuk melaksanakan sholat agar terhindar dari malapetaka itu. Tentunya sholat tersebut bukan diniati untuk sholat Rebo Wekasan akan tetapi sholat hajat dengan tujuan agar terhindar dari malapetaka.
Banyak amalan yang dianjurkan oleh para ulama agar selamat dari malapetaka yang katanya diturunkan oleh Allah SWT pada hari Rabu terakhir bulan Sapar itu. Sebenarnya amalan tersebut baik-baik saja dengan syarat bahwa amalan tersebut bukan untuk mengkultuskan dan meyakini bahwa hari Rabu terakhir bulan Sapar adalah hari dimana Allah SWT menurunkan malapetaka ke bumi sebanyak 320 ribu dan amalan tersebut diniatkan hanya karena Allah bukan yang lain.
Saya sebenarnya baru mendengar istilah Rebo Wekasan ini baru-baru saja. Sejak kecil sampai saya berkeluarga belum pernah mendengar apalagi mengamalkan amalan Rebo Wekasan. Kyai saya ketika di pondok pesantren tidak pernah memberitahu apalagi mengajarkan tentang Rebo Wekasan. Keluarga dan lingkungan saya yang sangat kental dengan tradisi NU nya pun tidak pernah mengajarkan tentang Rebo Wekasan. Setelah saya beberapa tahun hidup di Kabupaten Pati Jawa Tengah, baru saya mengenal istilah ini.
Rebo Wekasan bahkan diajarkan oleh kyai di mimbar pengajian. Dalam mimbar pengajian tersebut juga disebutkan amalan untuk Rebo Wekasan. Tidak hanya itu, amalan itu ditulis, difoto copy dan disebarkan kepada jemaah untuk diamalkan. Bagi jemaah yang patuh dan taat pada kyai maka semua amalan yang dianjurkan oleh kyai tersebut tentunya diamalkan dengan sebaik-baiknya.
Yang menjadi masalah adalah ketika Rebo Wekasan dijadikan keyakinan yang mengakar di masyarakat bahwa hari tersebut Allah menurunkan malapetaka ke dunia sejumlah 320 ribu padahal informasi tersebut datang dari seorang ulama kasyaf yang kebenarannya masih dipertanyakan. Bagi orang terpelajar akan menanyakan secara detil Rebo Wekasan. Mengapa demikian? Karena orang terpelajar akan lebih menggunakan akalnya daripada begitu saja menerima informasi yang belum jelas kebenarannya.
Yang jelas amalan-amalan yang dianjurkan oleh para ulama untuk terhindar dari malapetaka seperti sedekah, sholat hajat li daf'il bala', bacaan surat dan ayat agar terhindar dari malapetaka, semuanya ada dasarnya dan tidak perlu diperdebatkan. Sedekah adalah salah satu cara agar terhindar dari malapetaka sebagaimana sabda Rasulullah SAW: shodaqoh itu menolak malapetaka. Begitu juga sholat hajat yang diniati untuk terhindar dari malapetaka juga ada dasarnya. Semua amalan tersebut bisa dilaksanakan tidak hanya pada hari Rabu akhir bulan Sapar, akan tetapi bisa dilakukan kapan saja.
Semoga kita selalu diberi keselamatan oleh Allah SWT dari semua bentuk malapetaka yang ada di dunia ini.