Minta Damai
Saling serang antara As-Israil vs Iran terus terjadi. Kabar terakhir, Iran merudal depot penyimpanan minyak Israil setelah koalisi AS-Israil mengebom depot penyimpanan minyak Iran di ibukota Teheran yang berakibat banjir minyak di jalanan ibukota Teheran. Bahkan AS-Israil juga menyerang desalinasi air untuk 30 desa di Iran yaitu reservoir Qeshm. Iran kemudian mengebom pengolahan air di Bahrain dan Qatar. Negara-negara teluk bergantung pada pengolahan air laut menjadi air tawar bahkan Qatar 100% menggantungkan air tawarnya terhadap pengolahan air laut.
Perang jauh dari kata damai. Presiden AS, Donald Trump mengancam menggerahkan pasukan darat untuk menginvasi Iran. Ancaman itu ditanggapi oleh menteri luar negeri Iran, Iran menunggu pasukan darat Amerika. Bagi Iran, darah harus dibayar dengan darah, nyawa harus dibayar dengan nyawa, minyak dibayar minyak, air dibayar air. Jika Amerika-Israil mengebom penyimpanan minyak maka Iran akan mengebom penyimpanan minyak mereka.
Kondisi negara teluk sudah tidak kondusif. Raja Bahrain dikabarkan melarikan diri ke luar negeri karena terancam demontrasi rakyatnya. Rakyat Bahrain menginginkan agar wilayah Bahrain bebas dari kepentingan Amerika. Sementara Raja Bahrain, Hamad bin Isa al-Khalifa mendukung Amerika untuk menyerang Iran. Bahrain adalah salah satu sekutu kental Amerika setelah Arab Saudi di Timur Tengah. Ada markaz armada ke-5 AS di Bahrain. Markas Armada ke-5 ini adalah markas terbesar armada ke-5 AS di luar AS. Markas armada ke-5 ini bertugas untuk mengawasi seluruh kawasan Timur Tengah sampai Samudera Hindia. Semua fasilitas ada di markas armada kelima ini. Markaz ini kemarin hancur dan luluh lantak dirudal oleh Iran. Akibatnya Amerika menonaktifkan markaz ini. Semua pangkalan Amerika di negara Teluk dinon aktifkan.
Kerusakan parah tidak hanya diderita oleh Iran akan tetapi oleh Israil. Ibu kota Israil hancur dan banyak korban tewas. Menurut keterangan wartawan dari India yang viral itu, Tel aviv porak poranda dan tidak ada sirene yang menandakan akan adanya rudal Iran. Sirene berbunyi setelah rudal menghantam. Banyak korban tewas di bunker yang kedalamannya 60 meter. Ratusan orang tewas di bunker. Wartawan itu sendiri bisa keluar Israil setelah tertahan selama 6 hari yaitu 28 Februari - 6 Maret 2026. Israil memang melarang siapapun untuk mengambil gambar atau foto hasil serangan Iran sehingga tidak diketahui secara pasti akibat serangan Iran di wilayah Israil. Pelarangan pengambilan gambar berupa foto maupun video tersebut tidak efektif karena ketika wartawan televisi sedang melakukan siaran langsung ternyata ada serangan rudal Iran yang berakibat runtuhnya bangunan di Tel Aviv, yang jelas Israil menanggung kehancuran seperti Iran.
Amerika juga menanggung kehancuran berupa pangkalan militer di negara-negara Teluk. Tidak hanya itu, Amerika sebenarnya menanggung malu karena jelas kalah dengan Iran. Amerika yang selama ini digembar-gemborkan sebagai negara adidaya ternyata kalah telak dengan Iran yang sudah diembargo sejak tahun 1979. Kekalahan Amerika itu sangat nyata. Pangkalan militer Amerika di negara Teluk hancur total. Peralatan militer yang katanya canggih dan mahal kalah dengan peralatan militer Iran yang murah. Belum lagi kekalahan ekonomi. Biaya operasional perang sangat besar. Serangan yang seharusnya bisa dilakukan secara efektif ternyata tidak bisa dilakukan karena semua pangkalan di Teluk hancur. Akhirnya serangan dilakukan melalui pesawat pengebom yang harus mengisi amunisi jauh dari Iran.
Angkatan laut Amerika yang memiliki kekuatan besar tidak berdaya menghadapi Iran. Kapal induk yang dipuja sebagai lambang kekuatan laut harus menelan pil pahit di rudal oleh Iran. Kapal induk Amerika yang menjadi pangkalan terapung harus lari terbirit-birit menghindari drone dan rudal Iran. Satu kapal induk Abraham Lincoln kena rudal Iran dan 1 kapal perusak Amerika dinonaktifkan karena kena rudal Iran. Amerika menelan pil pahit perang kali ini.
Pilihan untuk menurunkan kekuatan darat adalah pilihan terakhir yang harus dilakukan oleh Amerika-Israil. Pasukan Amerika-Israil belum teruji dalam perang darat dengan Iran. Pasukan Amerika kalah telak di Vietnam ketika perang darat. Pasukan Amerika kalah telak di Korea ketika perang Semenanjung Korea. Jika Amerika-Israil memaksa untuk menurunkan pasukan darat bisa menjadi sasaran empuk pasukan IRGC Iran. Kemarin Amerika sudah mencoba untuk menurunkan pasukan Delta Force yang katanya sangat canggih itu di Iran akan tetapi infiltrasinya ke Iran diketahui. Akibatnya pasukan Delta Force menjadi bulan-bulanan IRGC. Sebagian tewas dan sebagian ditawan oleh IRCG. Kejadian ini tidak ada dalam berita di manapun. Setelah itu pasukan Givati Israil -pasukan tercanggih di angkatatan bersenjata Israil- melakukan infiltrasi ke Iran melalui Irak. Akan tetapi infiltrasinya juga diketahui oleh Hizbullah -proksi Iran-. Akibatnya pasukan Givati ini jadi bulan-bulanan pasukan Hizbullah dan berakhir dengan banyak kematian di pasukan ini. Kemungkinan sebelum menerjunkan angkatan darat dengan kekuatan besar, Amerika-Israil mencoba untuk menurunkan tim kecil untuk mengecek keamanan Iran. Ternyata pasukan yang dikirim tersebut gagal total. Menurunkan angkatan darat Amerika ke wilayah Iran adalah perjudian dan sangat beresiko tinggi karena medan yang bergunung dan gurun pasir luas.
Setelah banyak kehancuran di kedua belah pihak, Amerika-Israil mengirimkan tawaran damai kepada Iran. Tawaran damai ini menunjukkan bahwa memang Amerika-Israil tidak mampu melawan Iran dan mengaku kalah. Bahkan salah satu perwira intelejen Mossad Israil mengakui bahwa Israil kali ini kalah dengan Iran dan Iran memenangkan pertempuran ini. Bagaimana tanggapan Iran? Presiden Iran maupun menteri luar negeri Iran mengatakan bahwa harus ada persyaratan jika menginginkan perdamaian. Perang ini harus jelas siapa yang kalah dan yang menang. Yang kalah bertanggung jawab terhadap kerusakan akibat perang. Syarat ini sangat berat bagi Amerika-Israil. Mengapa berat? Karena Amerika jelas menanggung kehancuran yang tidak pernah dialami selama perang dunia ke-2 sampai sekarang. Kerugian Amerika tidak hanya berupa kerugian fisik akan tetapi kerugian moral. Moralitas Amerika yang selama ini dikenal sebagai negara adidaya akan runtuh dengan pengakuan kekalahan ini apalagi harus menanggung semua kerugian akibat perang. Jelas tidak mungkin. Begitu juga Israil. Israil hancur lebur akibat serangan Iran dan tidak pernah mengalami kehancuran seperti sekarang selama perang dengan negara manapun. Kerugian Israil sama dengan kerugian Amerika. Selama ini Israil terkenal sebagai negara terkuat di kawasan akan tetapi kali ini harus mengaku kalah di hadapan Iran -musuh bebuyutannya-. Apakah tawaran perdamaian dari Amerika-Israil ini akan disambut Iran? Sambutan Iran jelas harus ada yang kalah dan menang dalam perang kali ini. Sekarang bola ada di tangan Amerika-Israil. Jika Amerika-Israil siap mengaku kalah dan siap bertanggung jawab akibat perang maka perang kali ini akan berhenti.
Para pengamat mengatakan tidak mungkin Amerika-Israil mau mengaku kalah karena konsekuensinya sangat berat bagi kedua negara tersebut. Jika Amerika-Israil mengaku kalah maka semua kepentingan Amerika-Israil di kawasan Teluk harus ditutup dan tidak boleh beroperasi. Artinya Amerika-Israil akan kehilangan hegemoni dan dominasi atas kawasan Teluk yang kaya akan minyak. Petro dollar akan hancur. Tidak hanya Amerika-Israil yang menanggung akibatnya akan tetapi seluruh negara Eropa akan menanggung akibat perang ini. Mengapa Eropa juga menanggung akibat dari perang ini? Eropa akan kehilangan akses istimewa suplai minyak dari Timur Tengah. Para pengamat yakin perang akan terus berlanjut walaupun sudah 2 kali ini Amerika-Israil menawarkan damai kepada Iran. Perang ini jauh dari kata damai. Terlalu dini untuk mengatakan perang akan segera berakhir. Iran sudah bersumpah untuk berperang sampai titik darah penghabisan.