Tidur Puasa Ibadah
Ramadan merupakan bulan istimewa bagi umat Islam. Ramadan adalah bulan yang digunakan sebaik-baiknya untuk ibadah. Bahkan ada sebuah hadits yang sering disebut-sebut orang yang lagi berpuasa. Adapun hadits tersebut sebagai berikut:
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ، وَصَمْتُهُ تَسْبِيحٌ، وَعَمَلُهُ مُضَاعَفٌ، وَدُعَاؤُهُ مُسْتَجَابٌ، وَذَنْبُهُ مَغْفُورٌ
Artinya:
Tidurnya orang puasa itu ibadah, diamnya itu tasbih, perbuatannya dilipatgandakan, doanya dikabulkan dan dosanya diampuni.
Memang sangat jelas bahwa hadits tersebut mengatakan bahwa tidurnya orang berpuasa itu diganjar sebagai ibadah. Akan tetapi hadits diatas tidak bisa digunakan sebagai dasar untuk bermalas-malasan. Mari kita bedah hadits diatas dari sisi ilmu hadits. Apakah hadits tersebut kategori hadits sahih, hasan, dhoif atau maudhu'. Apakah hadits tersebut merupakan hadits mutawatir, ahad atau matruk?
Dalam meneliti sebuah hadits ada ilmunya. Hadits yang datang dari Nabi Muhammad SAW masih perlu diteliti dan dikoreksi karena kita tidak langsung bertemu dengan Nabi Muhammad SAW. Cara menilai hadits ada 2 macam yaitu dari sisi matan (bunyi) hadits dan dari sisi sanad (orang yang meriwayatkan hadits) atau dalam ilmu hadits dikenal dengan ilmu hadits dirayah dan ilmu hadits riwayah.
Ada 5 sahabat Nabi Muhammad SAW yang meriwayatkan hadits diatas yaitu:
Abdullah bin Abi Aufa
Abdullah bin Umar al-Ady
Abdullah bin Mas’ud
Ali bin Abi Tholib
Tidak diketahui namanya
Setelah dari sahabat Nabi Muhammad SAW diatas ada tabi'in kemudian tabi' tabiin sehingga sampai ke perawi terakhir. Dalam penelitian pakar hadits berdasarkan aplikasi Jawamiul Kalim disebutkan bahwa ada perawi (orang yang meriwayatkan hadits) yang kredibilitasnya dipertanyakan dalam meriwayatkan hadits di atas. Kredibilitas atau rekam jejak perawi hadits di atas banyak yang dipertanyakan. Contoh dalam periwayatan dari sahabat Abdullah bin Abi Aufa dimana ada perawi hadits yang rekam jejaknya sering melakukan pemalsuan hadits yaitu Sulaiman bin Amr. Sulaiman bin Amar ini menurut para pakar hadits dikenal sebagai orang yang sering memalsukan hadits. Berdasarkan penilaian pakar hadits inilah hadits diatas termasuk kategori hadits maudhu' alias yang dibuat-buat.
Dari jalur sahabat Ali bin Abi Tholib juga demikian. Ada perawi hadits yang rekam jejaknya dicap sebagai pembohong yaitu Sahl bin Ahmad al-Dibajiy. Maka kategori hadits termasuk adalah hadits maudhu'. Dari 5 sahabat Nabi Muhammad SAW yang meriwayatkan hadits bahwa tidurnyanya orang puasa adalah ibadah, hanya satu sahabat yaitu Abdullah ibn Mas'ud yang kategori haditsnya dhoif. Selebihnya adalah hadits syadid al-dhoif alias lemah sekali, matruk, dan maudhu.
Kesimpulannya bahwa hadits tidurnya orang puasa itu ibadah, diamnya itu adalah tasbih, perbuatannya dilipatgandakan, doanya dikabulkan dan dosanya diampuni adalah hadits maudhu' atau paling ringan adalah hadits dhoif.
Kategori hadits diatas tidak bisa dijadikan hujjah (argumentasi) dalam pengambilan hukum. Hadits dhoif bisa digunakan untuk fadhoilul a'mal yaitu mendorong atau memberikan sugesti untuk melakukan amal baik seperti puasa. Dorongan untuk melakukan puasa memang harus diberikan agar orang-orang mau berpuasa karena puasa adalah ibadah paling berat. Mengapa ibadah paling berat? Allah SWT melalui hadits qudsi telah berfirman bahwa semua amal anak adam adalah untuk mereka kecuali puasa. Puasa adalah untuk Ku (Allah). Dari hadits qudsi ini bisa disimpukan bahwa ibadah puasa menempati ibadah yang paling istimewa di sisi Allah. Karena ibadah yang istimewa maka ibadah tersebut adalah ibadah yang berat bagi manusia. Bagaimana tidak berat? Biasanya tiap hari harus sarapan di waktu pagi, ketika puasa tidak boleh sarapan. Biasanya makan siang, ketika puasa tidak boleh makan siang. Selain itu juga harus menjaga perbuatan agar tidak terjerumus ke perbuatan jelek yang membatalkan puasa. Saat puasa semua manusia harus mengendalikan hawa nafsunya. Hawa nafsu ini adalah musuh dalam selimut. Semua orang pasti mempunyai musuh dalam selimut. Musuh ini tidak kelihatan akan tetapi bisa dirasakan. Musuh tidak kasat mata ini memang musuh terbesar manusia. Maka dari itu puasa dibutuhkan sugesti dan dorongan agar semua orang melaksanakan puasa.
Semoga puasa kita diterima oleh Allah SWT. Amiin.