Tetaplah Bodoh Kawan
Hari terakhir tahun 2025 ini saya tutup dengan sebuah puisi yang ditulis oleh rektor UII (Universitas Islam Indonesia) Yogjakarta, Fathul Wahid, dan dibacakan pada Peringatan Hari Ibu dengan tema Kenduri dan Doa Ibu-Ibu Berisik di Bundaran UGM tanggal 22 Desember 2025. Puisi yang berjudul Tetaplah Bodoh ini saya pilih menjadi penutup tahun 2025 sebagai bahan instrospeksi diri dan renungan bangsa ini. Puisi ini dibuat oleh rektor UII sebagai kritik terhadap perjalanan bangsa ini pasca musibah galodo dan tanah longsor di ujung Pulau Sumatera. Diiringi gemericik suara gerimis pagi hari mari kita baca puisi yang ditulis oleh seorang akademisi yang nuraninya masih punya empati dan kepedulian terhadap bangsa ini. Puisi ini saya dapatkan dari salah satu kawan yang menjadi akademisi di UII Yogjakartag di group WA. Berikut puisi lengkap yang berjudul Tetaplah Bodoh
TETAPLAH BODOH
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar menuntut kita percaya
bahwa kayu gelondongan memang tumbang sendiri,
kebetulan saja sebagian diberi nomor
agar tak tersesat pulang.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar mengharuskan kita sepakat
bahwa sawit juga pohon karena punya daun hijau,
cukup untuk mengganti nama hutan,
meski akarnya tak lagi sudi menahan air.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar berarti curiga pada suara kritis,
dianggap menggiring opini,
menganggap pemerintah tidak bekerja sempurna,
dan empati harus menunggu siaran media.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar mengajarkan bahwa bantuan asing
yang tak seberapa itu berbahaya,
bisa meruntuhkan martabat bangsa
yang konon berdiri tegak—tanpa bantuan siapa-siapa.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar mensyaratkan
bantuan bencana dari diaspora
perlu dipajaki dulu,
agar duka ikut menyumbang penerimaan negara.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar berarti setuju
cukup menteri memanggul karung bantuan,
sementara empati dianggap bonus,
tak wajib, apalagi tulus.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar menuntut kita percaya
bahwa ribuan korban hanyalah angka,
terlalu kecil untuk disebut bencana nasional,
hanya cukup jadi catatan kaki laporan tahunan.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar menganggap alih hutan ke sawit
adalah keniscayaan,
dan banjir selalu bisa kita titipkan
pada takdir—
agar tangan manusia tetap tampak tak ternoda.
Mari, tetap bodoh, kawan.
Sebab di negeri ini,
terlalu sering, yang disebut pintar
justru adalah kelihaian
melawan akal sehat,
menyembunyikan fakta,
dan memperdayai sesama.
Kawan, mari, tetap bodoh.
Fathul Wahid
Sleman, 22 Desember 2025