Naik BBM
Tanpa pengumuman dan tanpa pers release, pemerintah menaikkan harga BBM non subsidi. Adapun BBM non subsidi yang dinaikkan adalah jenis Pertamina Dex, Dexlite dan Pertamax Turbo. Kenaikan tiga jenis BBM non subsidi ini sangat signifikan. Pertamina Dex semula Rp. 14.500/liter menjadi Rp. 23.900/liter (naik Rp. 9.400). Dexlite semula Rp. 14.200,/liter menjadi Rp. 24.600/liter (naik Rp. 9.400). Pertamax Turbo semula Rp. 13.100/liter menjadi Rp. 19.400/liter (naik Rp. 6.300). Kenaikan tanpa pengumuman dan pers release ini membuat kaget masyarakat. Pemerintah akhirnya tetap menaikkan BBM karena imbas perang Amis vs Iran.
Kenaikan BBM non subsidi ini memang tidak dirasakan langsung oleh kalangan masyarakat menengah ke bawah karena mayoritas BBM non subsidi yang dinaikkan adalah untuk kendaraan premium seperti Fortuner, Pajero dan sejenisnya. Bagi masyarakat yang mempunyai jenis kendaraan tersebut termasuk kalangan masyarakat kelas atas yang ekonominya mapan dan serba kecukupan.
Mengapa pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM non subsidi sementara BBM subsidi seperti pertalite, dan solar tidak dinaikkan bahkan pertamax pun tidak naik?
Pemerintah sangat berhati-hati untuk menaikkan BBM subsidi karena akan sangat berdampak terhadap ekonomi nasional dan jagad perpolitikan tanah air. Begitu harga BBM subsidi dinaikkan maka semua sektor akan terimbas kenaikan harga BBM tersebut. Semua sektor akan terdampak dengan kenaikan harga BBM subsidi yang berpengaruh terhadap inflasi ekonomi negara ini. Kenaikan harga BBM subsidi memicu gerakan masyarakat untuk melakukan protes terhadap pemerintah. Bisa jadi pemerintah kacau dan presiden lengser dari jabatannya. Maka pemerintah sangat berhati-hati untuk menaikkan harga BBM subsidi. Bagaimana jika harga BBM subsidi tidak naik? Apakah pemerintah mampu menutup kekurangan pembelian BBM Subsidi?
BBM subsidi jenis pertalite dan solar sebenarnya sudah naik sejak perang Rusia-Ukraina tahun 2022 dimana saat itu harga minyak internasional mencapai US$100 padahal asumsi harga BBM internasional dalam APBN dipatok US$70. Selisih antara harga internasional dengan asumsi dalam APBN inilah yang membuat harga BBM semua jenis dinaikkan pada tahun 2022. Jadi kenaikan harga semua jenis BBM pada tahun 2022 berdasarkan pada harga minyak internasional ketika mencapai US$ 100. Ternyata harga minyak internasional tidak selalu tetap (US$ 100) bahkan turun dibawah asumsi harga minyak dalam APBN pasca tahun 2022. Ketika harga minyak internasional dibawah asumsi harga APBN (US$70) ternyata harga BBM di tanah air tidak diturunkan oleh pemerintah. Logikanya ada keuntungan yang berlipat dengan margin sampai US$30. Mungkin banyak yang bertanya kemana margin keuntungan sampai US$30 itu? Inilah yang tidak kita ketahui. Kita hanya bisa menebak kemungkinan margin keuntungan inilah yang dibuat oleh pemerintah saat ini untuk menutupi gap harga minyak internasional dengan asumsi harga minyak dalam APBN. Harga minyak internasional sekarang bervariasi alias naik turun tergantung kondisi perang antara Amis vs Iran. Akan tetapi harga minyak internasional tidak sampai tingkat mengkhawatirkan. Rata-rata kenaikan sampai US$ 100 bahkan tidak sampai US$100. Maka dari itu wajar jika pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi. Kalau kita hitung margin keuntungan sejak 2023 sampai 2026 ini sudah berapa. Kalau pun harga minyak dunia menyentuh level US$100 dan hanya beberapa bulan saja tentunya masih banyak keuntungan yang dimiliki pemerintah dari selisih harga sejak 2023 sampai sekarang dengan syarat keuntungan tersebut tidak masuk kantong pribadi para pejabat atau politisi.
Kita tidak perlu khawatir dengan kondisi keuangan negara ini. Walaupun pemerintah melakukan efisiensi besar-besaran di berbagai bidang akan tetapi hasil efisiensi ternyata bukan untuk beli BBM. Sebaliknya hasil efisiensi untuk menopang program prioritas presiden seperti makan bergizi gratis dan kopdes merah putih. Lihatlah hasil efisiensi ternyata dialihkan ke program prioritas presiden bukan untuk pembelian BBM.
Sebagai orang awam, kita hanya bisa menebak karena transparansi pemerintah dalam hal ini tidak begitu terbuka. Pemerintah tidak mengumumkan berapa keuntungan hasil kenaikan BBM sejak 2022 sampai sekarang dan kemana distribusi keuntungan tersebut. Yang ada selalu berita bahwa Pertamina merugi di akhir tahun dan selalu seperti itu. Apakah itu sebuah taktik agar publik tidak bisa mendapatkan informasi yang benar atau memang benar-benar rugi? Siapa yang percaya jika Pertamina terus merugi? Mayoritas rakyat Indonesia tidak akan percaya kalau Pertamina terus merugi. Jika Pertamina merugi pasti rakyat bilang karena dikorupsi. Itu sudah pasti. Maka wajar jika menteri keuangan sangat percaya diri terkait kondisi keuangan negara ini. Menteri keuangan negara ini saja percaya diri dengan kondisi keuangan negara ini apalagi kita sebagai rakyat harus lebih percaya diri. Jika ada suara atau pendapat dari para ekonom atau pengamat ekonomi mengatakan bahwa kondisi keuangan negara ini sangat kritis bolehlah kita tidak percaya.
Semoga kondisi dunia segera stabil dan harga minyak dunia segera turun agar ekonomi kita normal kembali.