Kyai Itu
Istilah kyai sekarang ini sangat pejoratif sekali. Kalau tidak paham pejoratif silahkan cari di mesin pencarian apapun pasti akan muncul arti kata pejoratif. Begitu kita menyebutkan istilah Kyai maka yang muncul dibenak kita adalah sisi negatif dari panggilan kyai saat ini.
Istilah kyai sudah lama muncul di Nusantara terutama di pulau Jawa. Istilah Kyai dikenal sejak zaman Majapahit bahkan sejak kerajaan Mataram Kuno yang bercorak Hindu itu. Istilah Kyai pada zaman dahulu digunakan untuk sebutan benda pusaka, kerbau keraton atau orang yang dihormati. Kita sering mendengar istilah Kyai Slamet yaitu sebutan untuk kerbau keraton Kasunan Surakarta yang sering digunakan untuk acara Keraton. Kita juga sering mendengar Kyai Setan Kober yaitu senjata pusaka milik Arya Penangsang, Adipati Jipang Panolan yang dibuat oleh Mpu Supo. Kita juga sering mendengar Kyai Kanjeng Bondoyudo yaitu keris andalan Pangeran Diponegoro.
Seiring dengan perkembangan waktu istilah Kyai digunakan untuk menyebut ulama atau pemimpin pesantren di tanah Jawa karena kharisma dan sosok yang dihormati karena keilmuannya. Pimpinan pesantren disebut dengan Kyai sementara murid yang mengaji di pesantren dinamakan santri. Kehadiran pesantren di Pulau Jawa ini dimulai sejak zaman Sunan Ampel dimana Sunan Ampel waktu itu membuka pesantren di sekitar wilayah Ampeldenta sehingga pesantrennya dinamakan pesantren Ampeldenta. Sejak saat itu kita mengenal Kyai yang memimpin pondok pesantren seperti Kyai Haji Abdul Karim alias Mbah Manab pendiri pesantren Lirboyo, Kyai Haji Hasyim Asy'ari pendiri pesantren Tebu Ireng Jombang dan banyak lagi yang tidak bisa kita hitung dengan jari.
Menjadi Kyai tidaklah semudah membuat pesantren kemudian dipanggil dengan sebutan Kyai. Panggilan Kyai itu tidak semua orang yang memiliki pesantren akan tetapi panggilan Kyai hanya dikhususkan kepada orang yang benar-benar tinggi ilmunya dan bisa menjaga muru'ah atau wibawa sebagai seorang Kyai. Istilah Kyai di Jawa Barat disebut dengan Ajengan. Seorang Kyai jika tidak bisa menjaga wibawa Kekyaiannya bukanlah seorang Kyai, melainkan seorang iki wae. Istilah Iki Wae muncul karena tidak adanya orang yang dipandang pintar ilmu agama kecuali orang tersebut sehingga sebutan Kyai menjadi iki wae. Istilah Iki Wae muncul karena tidak adanya orang yang tepat dipanggil Kyai. Istilah Iki Wae inilah yang kemudian mendegradasi sebutan Kyai. Kemampuan keilmuan yang pas-pasan dan ketidakmampuan menjaga muru'ah Kyai maka jadilah Iki Wae ini Kyai daden. Kyai Daden inilah yang sekarang banyak terjadi di masyarakat kita. Orang punya ilmu agama pas-pasan kemudian dipanggil Kyai. Orang punya kelebihan sedikit dipanggil Kyai. Begitu mudah sebutan Kyai digunakan oleh masyarakat sehingga banyak Kyai instan di masyarakat yang sejatinya tidak pantas disebut Kyai.
Fenomena Kyai asusila, Kyai cabul dan kyai amoral adalah manifestasi dari Kyai Daden ini. Ketika Kyai Daden merusak istilah Kyai, maka semua Kyai merasakan dampaknya. Itulah yang terjadi akhir-akhir ini. Memang sebutan Kyai itu hak siapapun untuk dipanggil Kyai. Tidak ada aturan baku kategori Kyai harus begini dan harus begitu. Sebutan Kyai murni pemberian masyarakat. Bagi Kyai Daden sebutan kyai lebih mengarah pada konotasi negatif.
Menjadi Kyai tidak semudah membangun pesantren. Jika sebutan kyai hanya ditujukan kepada orang yang mempunyai pesantren maka sebutan itu akan hambar tanpa makna. Membangun pesantren sekarang sangatlah mudah mengapa demikian? Karena masyarakat begitu antusias jika dimintai sumbangan untuk pembangunan yang dilabeli dengan agama apalagi jika untuk pendidikan. Belum lagi ada alokasi dari lembaga pemerintah atau swasta untuk pengembangan pendidikan maka begitu ada orang yang mengajukan pendanaan untuk pembangunan pesantren otomatis akan mendapat alokasi pendanaan tersebut. Inilah mengapa sekarang sangat mudah membuat pesantren soal kualitas pimpinan pesantren apakah memenuhi kualifikasi atau tidak, itu urusan belakang.
Sudah saatnya pemerintah mengawasi semua pesantren dengan membuat kriteria sehingga kedepan tidak ditemukan adanya Kyai Daden. Pengawasan melekat dari pemerintah sangat diperlukan agar martabat Kyai dan Pesantren tetap baik di mata masyarakat. Dengan adanya pengawasan dari pemerintah, tindakan amoral dan asusila di pesantren dapat dicegah secara dini.
Bagaimanapun Kyai adalah kearifan lokal yang harus dipertahankan. Jangan sampai karena ada pelecehan terhadap istilah Kyai kemudian istilah Kyai dibuang begitu saja atau diganti dengan istilah lain seperti Ustadz atau Syekh atau istilah lainnya. Semoga tidak ada lagi kyai daden yang merusak istilah Kyai.