Amerika Latin Pasca Penangkapan Maduro
Amerika berhasil menangkap presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Keberhasilan penangkapan presiden Venezuela bukanlah keberhasilan yang perlu diglorifikasi. Mengapa demikian? Jelas aksi penangkapan presiden negara berdaulat ini melanggar hukum internasional dan tindakan semena-mena terhadap negara lain. Tidak dibenarkan sebuah negara menyerang negara lain tanpa mandat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Tindakan koboi presiden Amerika ini sangat menciderai hukum bernegara. Aksi koboi Donald Trump ini tidak hanya terhadap Venezuela akan tetapi juga kepada Denmark yang mempunyai wilayah Greenland. Trump mengancam akan mengakuisisi Greenland dan menjadikannya sebagai wilayah Amerika. Sebelum mengancam mengakuisisi Green land, Trump juga menebar ancaman kepada negara Kanada dan akan menjadikannya sebagai negara bagian Amerika.
Pasca penangkapan presiden Veenzuela, Trump juga menebar ancaman kepada presiden Kuba dan Kolombia. Dua presiden di benua Amerika Latin ini menjadi target Trump selanjutnya. Bahkan Trump tidak main-main akan menangkap kedua presiden tersebut dengan tuduhan yang sama dengan tuduhan kepada presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Tidak hanya Kuba dan Kolombia saja yang merasa terancam dengan aksi koboi Trump ini, Mexico, Nicaragua dan Bolivia juga merasa terancam dengan aksi preman Trump. Semua negara Amerika Latin merasa terancam dengan aksi Trump. Kondisi Amerika Latin sekarang ini dalam ketegangan tinggi akibat ancaman yang ditebar oleh Trump. Presiden Kuba, Miguel Mario Diaz Canel Bermudez menyatakan bahwa rakyat Kuba siap mendukung rakyat Venezuela melawan Amerika bahkan presiden Kuba sudah menginstruksikan kepada seluruh rakyatnya untuk angkat senjata melawan Amerika. Presiden Kuba juga mengajak seluruh negara Amerika Latin untuk bersatu melawan hegemoni dan kesewenang-wenangan Amerika yang dipimpin oleh Trump ini.
Apakah ancaman Trump untuk menangkap presiden Kuba dan Kolombia akan terlaksana? Kita belum tahu karena semua kita tahu bahwa ciri Trump adalah omong besar dan suka tebar ancaman. Semua negara Amerika Latin saat ini sedang meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan militer tinggi untuk melawan ancaman Amerika. Penangkapan presiden Venezuela membuat militer negara di Amerika Latin mengeluarkan seluruh kemampuannya dalam menjaga negaranya.
Semua negara Amerika Latin bersatu dan semakin kuat untuk melawan Amerika. Musuh Amerika semakin banyak tidak hanya negara Amerika Latin saja akan tetapi negara Eropa dan juga Asia. Mayoritas negara mengutuk serangan Amerika ke Venezuela. Tidak ada satupun negara yang setuju dengan aksi Trump tersebut kecuali Israil dan beberapa sekutunya. Mayoritas negara Eropa juga mengutuk keras serangan kepada negara berdaulat. Dalam sidang darurat PBB yang diprakarsai oleh Kolombia, mayoritas anggota PBB mengutuk serangan yang dilakukan oleh Trump itu. Akan tetapi sidang darurat tersebut tidak menghasilkan apa-apa. PBB mandul karena Amerika mempunyai hak veto dimana Amerika bisa memveto semua keputusan rapat PBB.
Mengapa presiden Venezuela mudah ditangkap oleh Delta Force? Secara logika akal, sangat sulit untuk menangkap presiden sebuah negara karena pengamanannya begitu ketat. Tidak mungkin pasukan secanggih apapun dari negara manapun bisa menangkap seorang presiden sebuah negara kecuali ada pengkhianatan di dalamnya. Coba lihat usaha pasukan khusus Amerika ketika menangkap presiden Somalia di Afrika itu? Gatot. Gagal total bahkan banyak pasukan khusus Amerika tewas dalam penangkapan tersebut. Beberapa mayat tentara AS yang tewas diseret dan diarak keliling kota. Operasi yang sudah dipersiapkan berbulan-bulan itu gagal total. Mengapa gagal? Karena rakyat dan militer Somalia bersatu dan tidak ada pengkhianatan di dalamnya.
Operasi di Venezuela mengapa berhasil dan mulus tanpa ada perlawanan. Lihatlah bagaimana pasukan AS begitu bebasnya menyerang ibu kota Caracas dan masuk ke istana presiden dengan mudah tanpa perlawanan. Bahkan tidak ada satupun peluru yang keluar dari pasukan pengamanan presiden atau militer Venezuela. Ini sangat jelas ada pengkhianatan di dalamnya. Ini bukan keberhasilan Delta Force yang dibangga-banggakan itu. Jelas Nicolas Maduro ditangkap oleh militernya sendiri dan diserahkan kepada pasukan Amerika.
Saat ini kondisi di Venezuela tidak stabil. Kabarnya ada perebutan kekuasaan di faksi militer. Wakil presiden yang dilantik menjadi presiden oleh Mahkamah Agung menghadapi kudeta dari faksi militer. Menhan Venezuela kemarin mengatakan bahwa rakyat Venezuela akan melawan Amerika sampai titik darah penghabisan. Apakah kata-kata Menhan itu akan ditaati oleh militer Venezuela. Kita tidak tahu pasti. Yang pasti militer Venezuela terbelah. Sementara rakyat Venezuela juga terbelah. Ada yang pro Nicolas Maduro dan ada yang anti Maduro.
Venezuela akan mengalami seperti Irak dan Libya. Kondisi pemerintahan tidak stabil dan akan ada perang saudara berkepanjangan. Lihatlah pasca penyerangan terlihat adem ayem dan tidak bergejolak. Hanya beberapa demonstrasi dari rakyat yang pro Maduro turun ke jalan. Sementara pihak militer belum terlihat ada pergerakan signifikan dalam melawan Amerika. Kabar terakhir ada pengerahan pasukan faksi militer untuk kudeta presiden yang baru dilantik oleh Mahkamah Agung. Mungkin faksi militer inilah yang menjadi antek Amerika dalam penangkapan Nicolas Maduro.
Walhasil keberhasilan penangkapan presiden Venezuela, Nicolas Maduro oleh Delta Force tidak menggambarkan begitu digdaya atau superioritasnya pasukan khusus tersebut karena tanpa ada komprador dari militer Venezuela, Delta Force itu akan gagal total. Maka memberikan reaksi berlebihan terhadap keberhasilan dan superioritas apalagi mengglorifikasi kemampuan Delta Force adalah salah besar. Keberhasilan operasi Caracas terletak pada kecanggihan Amerika membuat antek di dalam lingkaran militer Venezuela. Tidak lebih dari itu.