Pulpen Pembunuh
Judul diatas bukan bermaksud bahwa pulpen adalah alat pembunuh. Sama sekali bukan. Bukan juga bahwa pulpen bisa membunuh karena digunakan oleh intelejen suatu negara untuk membunuh targetnya. Jelas sangat bukan. Pulpen adalah alat untuk menulis sebagai penyebab seorang anak SD di NTT tepatnya di Kabupaten Ngada Kecamatan Jerebuu bunuh diri.
Viral di media online bahwa seorang anak SD bunuh diri karena tidak dibelikan pulpen dan kertas (buku) untuk sekolah oleh ibunya. Nama anak itu berinisial YBR. YBR adalah seorang anak SD kelas IV. Tiap hari YBR berangkat ke sekolah. Akan tetapi sudah 5 hari tidak pernah masuk sekolah alasannya karena hujan. Sehari sebelum gantung diri, YBR minta kepada ibunya untuk membelikan buku dan pulpen untuk sekolah.
Ibunya tidak memenuhi permintaan anaknya itu karena keterbatasan ekonomi. Ibunya adalah janda ditinggal meninggal oleh suaminya. Ibunya mempunyai anak 5. YBR tidak ikut ibunya akan tetapi ikut neneknya di desa tetangga ibunya.
Bunuh diri seorang siswa SD kelas IV adalah tamparan keras dunia pendidikan dan ekonomi kita. Bagaimana mungkin seorang anak SD yang baru kelas IV sudah berpikiran untuk gantung diri karena permintaannya tidak dipenuhi oleh ibunya. Miris sekali. Di saat pemerintah menghambur-hamburkan anggaran untuk program prioritasnya, di saat yang sama kemiskinan akut muncul ke permukaan. Fenomena kemiskinan akut di luar Jawa khususnya di Indonesia Timur memang kerap kita dengar dan baca di berbagai media. Indonesia timur seperti Papua, NTT, NTB, Maluku dan sekitarnya menjadi salah satu wilayah yang tingkat kemiskinannya luar biasa.
Pemerintah seharusnya menitikberatkan program pengentasan kemiskinan di wilayah Timur ini. Masyarakat wilayah Indonesia timur baru merasakan pembangunan ketika presiden dijabat oleh Joko Widodo. Saat Joko Widodo menjabat sebagai presiden, pembangunan di Indonesia timur sangat digalakkan. Pembangunan bukan berorientasi Jawa sentris akan tetapi Indonesia sentris. Pembangunan Indonesia Timur pada jaman Jokowi ini tidak dilanjutkan oleh presiden berikutnya. Walhasil kemiskinan masih saja menyelimuti wilayah ini.
Ironisnya anggaran pengentasan kemiskinan sangat kecil sekali di masa pemerintahan sekarang. Anggaran pendidikan yang seharusnya digunakan sepenuhnya untuk pendidikan tidak digunakan untuk pendidikan. Sebaliknya anggaran pendidikan dipotong untuk anggaran makan bergizi gratis yang sering menimbulkan keracunan itu. Kalau pun anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN digunakan sepenuhnya untuk pendidikan tidak akan ada kasus anak sekolah bunuh diri karena tidak bisa beli buku dan pulpen. Pulpen dan buku adalah alat utama untuk sekolah. Tanpa buku dan pulpen, anak tidak akan bisa menulis.
Kasus bunuh diri anak kelas IV SD ini menampar dunia pendidikan kita. Apakah sebegitu parah kondisi pendidikan kita saat ini. 20% anggaran pendidikan dari APBN yang nyaris berjumlah 600 Triliun seharusnya bisa digunakan sepenuhnya untuk pendidikan. Dengan anggaran yang fantastis itu seharusnya tidak ada lagi anak sekolah kekurangan fasilitas pendidikan. Mengapa masih terjadi kasus anak sekolah kekurangan fasilitas pendidikan? Mungkin di daerah lain masih ada gedung sekolah yang tidak layak. Lihatlah di pedalaman Papua, NTT, Maluku, NTB bahkan di Jawa sendiri masih ada gedung sekolah yang tidak layak. Kemana anggaran sebegitu besar itu?
Memang sudah sangat terkenal di negara ini tingkat korupsi yang sangat tinggi. Anggaran yang sebegitu besar ternyata ketika sampai ke penerima dalam hal ini pihak sekolah tinggal 30% saja. Itupun masih diminta uang setoran oleh orang yang mengusahakan anggaran tersebut cair. Kita sering mendengar ada anggaran perbaikan gedung sekolah sekian besarannya untuk sekolah A. Akan tetapi sekolah A tersebut tidak akan mendapatkan alokasi anggaran tersebut jika tidak menghubungi pihak-pihak yang berkepentingan di atas seperti anggota dewan, pejabat, broker dan lain sebagainya. Kalau sekolah tidak menghubungi pihak-pihak tersebut dipastikan sekolah A tidak akan mendapatkan anggaran yang sudah disebutkan dalam DIPA itu. Anggaran itu akan melayang ke sekolah lain tanpa ada pertanggungjawabannya. Ketika ditanya mengapa alokasi untuk sekolah A beralih ke sekolah lain. Para pejabat dan anggota dewan itu bilang kesalahan prosedur dan pihak sekolah belum siap. Jawaban pihak sekolah belum siap ini berkonotasi bahwa sekolah memang tidak mengurus anggaran itu karena adanya upeti atau potongan yang diminta oleh banyak pihak itu. Kasus seperti itu sudah umum terjadi. Kejadian tersebut selalu berulang. Anggaran yang besarannya semisal 2 M, kemungkinan besar diterima oleh pihak sekolah hanya berkisar 700 jt sampai 1 M. Kemana selebihnya? Wallahu a'lam.
Inilah potret buram pendidikan kita saat ini. Kemana para menteri dan pejabat pendidikan kita yang koar-koar akan meningkatkan kualitas pendidikan kita? Kita tidak tahu entah kemana mereka. Mereka akan muncul ke publik kalau ada kasus. Kalau tidak ada kasus mereka akan diam seakan tidak ada apa-apa. Kritik konstruktif bukannya ditanggapi dengan baik akan tetapi kritik dibalas dengan intimidasi dan persekusi. Semoga dengan adanya kasus ini, pemerintah lebih peka, politisi lebih peduli dan menteri lebih mengerti daerah yang lebih membutuhkan. Semoga ini adalah kasus terakhir seorang siswa SD kelas IV yang melakukan bunuh diri.
Inilah surat YBR kepada ibunya sebelum bunuh diri (saya sertakan terjemahannya):
Kertas tii mama reti (surat buat mama reti)
Mama Galo zee (Mama saya pergi dulu)
Mama molo jao (Mama relakan saya pergi)
Galo mata mae rita ee mama (Jangan menangis ya mama)
Mama jao galo mata (Mama saya pergi)
Mama woe rita nee gae ngao ee (Tidak perlu mama menangis dan mencari atau merindukan saya)
Molo mama (Selamat tinggal mama)