Mencari Asal usul
Kemarin bertemu dengan salah satu tokoh masyarakat di wilayah kerja. Tokoh masyarakat ini kelihatannya diberi tugas atau menjadi panitia penelusuran asal usul berdirinya desa. Mayoritas desa di negara ini tidak punya referensi tertulis asal usul berdirinya desa.
Asal usul desa hanya dituturkan secara lisan atau floklor. Penuturan secara lisan ini menjadi sumber primer asal usul mayoritas desa di negara ini. Tidak ada yang tahu pasti kapan, siapa dan mengapa dinamakan dengan desa A, B dan C. Sumber tertulis yang menjadi landasan ilmiah tidak pernah ada dalam sejarah pembentukan desa di negara ini.
Mungkin karena terlalu lamanya dijajah oleh Belanda akhirnya penduduk negeri ini tidak bisa menulis dan membaca. Ingat bahwa penjajah Belanda sangat membatasi pendidikan untuk pribumi. Saat dijajah Belanda ada kastanisasi dalam kehidupan masyarakat. Penduduk pribumi hanya boleh mengenyam pendidikan tingkat dasar saja atau disebut dengan sekolah ongko loro. Untuk melanjutkan sekolah diatasnya, Belanda membatasi hanya untuk kalangan pangeh praja atau anaknya pejabat. Efek dari pembatasan pendidikan inilah membuat rakyat Indonesia mayoritas buta huruf. Kemampuan menulis dan membaca apalagi mendokumentasikan semua peristiwa sejarah sangat terbatas. Mereka hanya bisa menuturkan peristiwa sejarah itu melalui lisan atau folklor.
Memang penjajah Belanda sangatlah kejam dalam hal ini. Dengan membatasi rakyat pribumi untuk mengenyam pendidikan maka penjajah mematikan asal usul dan ilmu pengetahuan rakyat pribumi. Penjajah Belanda mengambil dan membawa semua bukti sejarah tertulis ke negaranya. Praktis tidak ada referensi apapun terhadap sejarah masyarakat negara ini kecuali hanya dengan floklor. Jika ingin mempelajari dan mengetahui sejarah masyarakat dan negara ini maka harus pergi ke Belanda karena disanalah tersimpan bukti sejarah tertulis negara ini.
Asal usul dan sejarah bangsa ini semua ada di Belanda. Akibatnya ketika masyarakat desa ingin mengetahui asal usul desa atau kotanya tidak ada referensi yang bisa dibaca. Akhirnya mereka mengira-ngira asal-usul desa atau kota mereka. Kadang asal usul itu bisa tepat dan kadang meleset. Para tokoh desa hanya otak atik gatuk terkait asal usul desa. Padahal kalau mau menelusuri sejarah suatu daerah bisa menelusuri ke Belanda sebagai penjajah negara ini.
Semua asal usul desa/kota di negara ini ada di Belanda. Contohnya adalah asal usul Kabupaten Pati atau kabupaten lain semua tercatat ada di Belanda. Tinggal tokoh masyarakatnya apakah ada kepedulian atau tidak terhadap sumber sejarah tersebut. Jika memang tokoh masyarakat ada kepedulian terhadap asal usul daerahnya maka akan dicari sampai ketemu. Sebaliknya jika tokoh masyarakat tidak mau tahu dengan asal usul daerahnya maka yang terjadi ada floklorisasi asal usul. Celakanya floklorisasi asal usul ini tidak berdasarkan bukti empiris akan tetapi otak atik gatuk. Contoh sederhana kasus seperti ini adalah mengapa sebuah desa dinamakan A, misal suatu desa dinamakan Wedusan karena banyak pohon bunga yang bernama Wedusan. Padahal secara empiris belum tentu ada pohon bunga yang bernama Wedusan. Begitu juga penamaan sebuah desa dengan nama Pakis dikarenakan daerah tersebut banyak pohon pakisnya. Apakah otak-atik gatuk asal usul penamaan desa tersebut sesuai dengan data empiris? Wallahu a'lam. Yang jelas penamaan suatu desa memang begitu mudah dimata para tokoh, misal seperti penamaan desa seperti contoh diatas. Otak atik gatuk penamaan desa ini membawa implikasi terhadap kebenaran yang kemudian dipercaya oleh generasi berikutnya bahkan dijadikan referensi primer dalam menyejarahkan berdirinya suatu desa.
Tradisi sedekah bumi atau lazim disebut kabumi, merupakan tradisi memperingati berdirinya suatu desa. Dalam tradisi tersebut dibacakan sejarah asal usul desa. Pertanyaannya apakah sejarah asal-usul desa tersebut valid sesuai dengan bukti tertulis atau hanya karangan para tokoh masyarakat yang sudah meninggal?
Banyak pekerjaan rumah bagi masyarakat kita untuk menelusuri asal usul suatu daerah. Mungkin jika pemerintah kita perhatian terhadap asal usul suatu daerah, pemerintah kita bisa meminta semua arsip negara ini yang sudah dijarah dan disimpan oleh penjajah di negaranya. Bukti-bukti sejarah seperti patung, artefak, prasasti bahkan buku karangan pujangga-pujangga bangsa ini zaman dahulu semua dijarah dan disimpan di negara para penjajah.
Pujangga negara ini sudah mengenal tulis-menulis sejak berdirinya kerajaan di Nusantara. Berdirinya kerajaan Kutai Kertanegara ada bukti historisnya. Begitu juga berdirinya kerajaan lain semuanya ada bukti tertulisnya. Sejak abad ke-5 Masehi, masyarakat negara ini sudah mengenal tulis menulis. Ini dibuktikan dengan banyaknya prasasti yang memuat asal-usul kerajaan. Maka kita tidak heran jika suatu daerah mengetahui asal usulnya secara lengkap.
Pekerjaan rumah kita sekarang adalah bagaimana menemukan bukti tertulis sejarah tersebut. Jangan sampai asal-usul suatu daerah tidak diketahui dan dibuat-buat dengan cara otak-atik gatuk. Jangan sekali-kali masyarakat dan generasi penerus bangsa ini tidak tahu menahu sejarah bangsa ini. Jasmerah: Jangan sekali-kali melupakan sejarah.