Refleksi 2025
Tahun baru 2026 tinggal menghitung bilangan jam saja. Saat tulisan ini dibuat masih ada 39 jam lagi menuju tahun baru 2026 yang dinanti-nantikan oleh seluruh masyarakat dunia. Secara perhitungan jam, awal tahun baru dimulai ketika jarum jam menunjukkan pukul 00.00. Saat itulah hari pertama dalam tahun baru dimulai. Tahun baru ini biasanya dirayakan oleh seluruh masyarakat dunia. Ada yang membunyikan terompet, ada yang membunyikan petasan dan ada yang menyulut kembang api. Bahkan sekarang ada yang merayakannya dengan memakai drone yang menghiasi langit dengan beraneka macam lukisan sesuai dengan keinginan koreagrafernya. Intinya tahun baru harus dirayakan semeriah mungkin dan tidak peduli dengan apa yang telah dilakukan tahun sebelumnya.
Memang berbeda dalam penyambutan tahun baru masehi dengan tahun baru hijriyah. Tahun baru masehi dirayakan begitu meriah seakan puncak kemeriahan dalam tahun tersebut. Sementara tahun baru hijriyah lebih difokuskan pada muhasabah (instrospeksi) diri dan dihiasi dengan kegiatan doa bersama. Perbedaan itu memang sangat mencolok. Mengapa disebut kalender masehi dan kalender hijriyah? Saya tidak akan membahasnya disini. Yang terpenting saat ini, di penghujung tahun 2025 ini adalah refleksi terhadap apa yang sudah kita kerjakan selama tahun 2025. Bagi kaum kantoran apa yang sudah diperbuat selama tahun 2025 untuk kantor dan isinya. Bagi kaum usahawan, apa yang sudah dilakukan dalam bisnisnya selama setahun ini. Bagi olahragawan, apa yang sudah diraihnya dalam setahun ini. Bagi kaum terpelajar, prestasi apa yang sudah dicapai dalam tahun ini dan seterusnya.
Ada beberapa hal yang perlu direfleksikan dalam tahun 2025 ini. Bagi kaum kantoran seperti saya yang merupakan pelayan masyarakat sekaligus pimpinan kantor tingkat kecamatan (ujung tombak) sebuah kementerian, ada beberapa hal yang patut menjadi catatan.
Job discription bawahan
Bagi seorang pemimpin, keberhasilan dalam memimpin sebuah kantor adalah ketika lihai mengatur semua bawahannya. Mengatur bawahan tidaklah mudah. Dalam mengatur bawahan, pemimpin harus menguasai regulasi, potensi, skill, kemampuan bawahannya. Ilmu managerial harus dikuasai oleh pemimpin. Tanpa menguasai ilmu managerial, seorang pemimpin tidak akan mampu mengatur bawahannya. Semua pekerjaan harus terdistribusikan secara merata melihat kemampuan, skill, potensi dan regulasi yang ada.
Selain menguasai kemampuan managerial, pemimpin harus mengetahui psikologi bawahan. Kadang ada bawahan yang malas. Kadang ada bawahan yang sangat aktif. Kadang ada bawahan yang ogah-ogahan. Kadang ada bawahan yang tidak kreatif. Kadang ada bawahan yang sangat kreatif. Pimpinan harus mengetahui psikologi bawahan.
Penjelasan tugas terhadap bawahan sangat penting. Jangan sampai tugas tersebut hanya sekedar diberikan tanpa adanya penjelasan. Tanpa ada penjelasan, tugas tersebut akan sia-sia karena belum tentu bawahan paham terhadap tugasnya. Pimpinan harus turun langsung menjelaskan kepada bawahan tugasnya apa dan bagaimana. Kalau perlu pendampingan secara personal agar tugas yang diberikan berjalan sesuai dengan keinginan pimpinan. Jangan sampai bawahan bingung dengan tugasnya sehingga bekerja seenaknya sendiri.
Teknologi AI
Perkembangan teknologi yang sangat pesat mewajibkan pimpinan untuk menguasai teknologi. Minimal seorang pemimpin mengetahui perkembangan teknologi. Tanpa mengetahui dan buta terhadap perkembangan teknologi maka pimpinan akan menjadi bulan-bulanan bawahan yang lihai dalam teknologi. Teknologi AI menjadikan semua serba mudah apalagi jika bawahan adalah generasi Z. Pimpinan harus menguasai psikologi bawahan gen Z yang serba menggunakan teknologi internet. Benar teknologi AI mempermudah pekerjaan. Benar bahwa teknologi AI membuat semuanya serba mudah. Akan tetapi teknologi AI bukannya tanpa cacat. Teknologi AI membuat pegawai semakin malas membaca buku. Teknologi AI membuat pegawai malas mengembangkan kemampuan. Teknologi AI membuat pegawai tergantung terhadap AI. Akibatnya pegawai tidak kreatif, malas dan tergantung AI. Ketika tidak ada AI atau Hp maka kreatifitas pegawai tidak muncul bahkan mati. Ketergantungan terhadap AI ini sangat membahayakan. Benar pagawai bisa berkreatifitas di media sosial akan tetapi kreatifitas itu bukan hasil karya genuin pikiran pegawai. Kreatifitas di media sosial adalah kreatifitas semu yang dibuat oleh AI bukan oleh pikiran pegawai. Semua kreatifitas itu sudah disiapkan oleh AI. Pegawai tinggal lihai atau tidak memainkan teknologi tersebut. Maka wajar jika ada ilmuwan yang mengatakan bahwa 10 tahun yang akan datang manusia akan kalah dengan AI. Mengapa demikian? Karena semua tergantung pada AI yang membuat otak dan pikiran seseorang mati dan tidak dipergunakan. Bagi saya bukan demikian. AI adalah buatan manusia maka secanggih apapun AI masih kalah canggih dengan manusia. Bagaimana manusia kalah dengan AI sementara manusia adalah pembuatnya. Jika si pembuat menghapus semua kode-kode atau scrip algoritma AI maka AI akan mati dan tidak berfungsi. Maka jika ada yang berpikiran bahwa manusia akan kalah dengan AI itu namanya manusia sesat.
Teknologi AI akan selalu dipergunakan oleh pegawai untuk menunjukkan bahwa pegawai tersebut eksis. Ketika membuat laporan, brosur, atau apapun yang terkait dengan pekerjaan, AI akan selalu menjadi tujuan pegawai. Kalau pimpinan tidak menguasai AI maka pimpinan akan menjadi orang bodoh di mata pegawai bawahannya. Informasi yang dibuat AI tidak selalu akurat. Informasi yang dibuat AI tidak serta merta benar. AI bekerja berdasarkan perintah si pembuat. Untuk itu pimpinan harus menambah wawasan dengan banyak membaca literasi apapun apalagi terkait dengan pekerjaan. Pegawai sekarang tidak lagi membaca aturan secara manual akan tetapi semua disediakan oleh AI. Begitu ada masalah, pegawai akan menanyakan solusinya kepada AI? Apakah AI akan menjawab? AI pasti akan menjawab. Pertanyaannya adalah apakah jawaban AI akan tepat dan akurat. Tidak sama sekali. Jawaban AI hanya berdasarkan algoritma yang dibuat oleh si pembuat. Jawaban AI perlu dikoreksi. Prilaku mengandalkan AI ini akan menjadi adat bagi generasi Z dan generasi Alpha. Mereka malas membaca literasi yang ada. Inilah tantangan bagi seorang pemimpin. Kadang pemimpin pun percaya penuh terhadap AI karena kemalasan pemimpin dalam menambah literasi.
Penataan tempat kerja
Penataan tempat kerja sangat penting dalam kesuksesan pelayanan. Tanpa penataan tempat kerja maka pelayanan akan amburadul dan berbelit-belit. Masyarakat akan dipingpong kesana-kemari tanpa ada kejelasan. Selain itu, pegawai juga bingung dengan mekanisme pelayanan. Penataan tempat kerja adalah cermin pelayanan yang baik. Begitu masyarakat datang harus segera disapa oleh pegawai. Jangan sampai masyarakat datang dibiarkan begitu saja dan mencari-cari pegawai yang dikehendaki atau layanan yang dikehendaki. Seyogyanya, masyarakat datang langsung disapa dan ditanya keperluannya apa. Begitu mendapat jawaban, pegawai tersebut langsung mengarahkan ke bagian yang membidangi keperluan tersebut. Pegawai harus cekatan ketika masyarakat datang memerlukan pelayanan. Jangan sampai pegawai membiarkan masyarakat tersebut tanpa arah.
Pimpinan Sebagai Contoh
Seorang pemimpin tidak hanya memberikan perintah saja akan tetapi pemimpin adalah sebuah uswah (contoh). Pemimpin harus memberik contoh kepada bawahannya. Jangan sampai pemimpin memberikan contoh yang tidak baik. Semua kesuksesan tergantung pada pemimpinnya. Jika pemimpin jelek maka jeleklah kantor tersebut. Begitu juga sebaliknya jika pemimpin baik maka baiklah kantor tersebut. Pemimpin menjadi contoh bagi bawahannya dalam segala hal. Jika pemimpin tidak mampu menjadi contoh yang baik maka jangan harap bawahan akan menjadi baik. Jika pemimpin tidak baik maka bawahan akan lebih tidak baik seperti pepatah jika guru kencing berdiri maka murid kencing berlari.
Banyak pemimpin yang seenaknya sendiri hanya memberikan perintah tanpa memberikan contoh. Prilaku seperti ini bukanlah prilaku seorang pemimpin. Prilaku pemimpin yang hanya memberi perintah kayak seorang ustadz yang hanya pandai berceramah atau istilah Jawanya jarkoni (pinter ngujar ra pinter nglakoni). Jangan sampai pemimpin hanya menjadi pemimpin jarkoni. Pemimpin jarkoni hanya akan menjadi gunjingan bawahan bahkan dibawa kemana-mana dan menjadi buah bibir tidak hanya bawahan akan tetapi juga masyarakat.
Pemimpin yang baik belum tentu menghasilkan bawahan yang baik. Apalagi jika pemimpin tidak baik. Ketika pemimpin sudah memberikan uswah yang baik maka bawahan akan segan dan jika bawahan tidak segan dan masih seenaknya sendiri, pemimpin bisa memberikan teguran kepada bawahan tersebut. Bahkan jika keterlaluan bisa memberikan surat teguran secara tertulis kepada bawahan.
Bagi pemimpin, ajaran Ki Hajar Dewantara harus menjadi pegangan: Ing ngarso sung tulodho (di depan menjadi teladan), ing madya mangun karso ( di tengah membangun semangat) dan tut wuri handayani (dibelakang memberi semangat). Jangan sampai ajaran agung itu dirubah menjadi ing ngarso sung mundur (di depan tidak tanggungjawab alias tidak bisa dijadikan teladan), ing madyo mangan turu (ditengah hanya diam tidak peduli bahkan menghambat kemajuan) dan tut wuri ngunduri (dibelakang menghambat). Apalagi jangan sampai semboyan agung tersebut dirubah menjadi ing ngarso golek bondo (di depan ngumpulin harta), ing madyo mangan konco (di tengah makan teman) dan tut wuri golek rai (dibelakang cari muka).
Pemenuhan sarana dan pra sarana
Salah satu kesuksesan pelayanan adalah terpenuhinya sarana dan pra sarana. Tanpa sarana dan pra sarana yang memadai maka pelayanan tidak akan berjalan baik. Kemampuan menyediakan sarana dan pra sarana merupakan salah satu ciri pemimpin yang mampu mengatur tempat kerja. Secanggih dan sepandai apapun pegawai jika tidak ada sarana dan pra sarana maka kemampuan tersebut akan sia-sia.
Disinilah kepiawaian dan kemampuan seorang pemimpin diuji. Apakah mampu memberikan dan memenuhi sarana dan pra sarana yang dibutuhkan oleh pegawai atau tidak. Jika seorang pemimpin memikirkan kesuksesan pelayanan maka pemimpin tersebut akan berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi sarana dan pra sarana tempat kerja. Sebaliknya jika pemimpin tidak begitu mengutamakan kesuksesan layanan maka pemimpin tersebut hanya akan bekerja sesuai kondisi yang ada tanpa memikirkan pemenuhan sarana dan pra sarana. Tipologi pemimpin seperti ini banyak sekali. Bagi pemimpin seperti ini, dia hanya bekerja berdasarkan kondisi yang ada tanpa berusaha untuk memenuhi sarana dan pra sarana tempat kerja.
Standar Operasional Prosedur
Standar Operasional Prosedur adalah rujukan utama dalam pelayanan masyarakat. Tanpa adanya SOP maka layanan tersebut akan carut marut. Seorang pemimpin harus mampu membuat standar pelayanan baku untuk dijadikan pedoman semua pegawai dalam melayani masyarakat. Ketiadaan SOP akan membuat kebingunan bagi pegawai dalam melayani masyarakat. SOP harus dibuat agar pelayanan lancar dan teratur. Semua pegawai harus memahami SOP layanan. Jangan sampai pegawai tidak paham SOP layanan. SOP layanan akan membekali pegawai dalam melayani masyarakat tanpa harus tanya sana-sini. Dengan adanya SOP, pelayanan menjadi teratur. Jangan sampai sebuah kantor pelayanan tidak mempunyai SOP. SOP adalah turunan dari berbagai macam regulasi yang ada. SOP adalah petunjuk teknis dalam praktek pelayanan masyarakat.
Refleksi di atas adalah sekelumit refleksi bagi pegawai kantoran selama tahun 2025. Pengalaman satu orang dengan orang lain jelas berbeda akan tetapi refleksi di atas adalah refleksi secara umum bagi orang yang bekerja di kantor pelayanan.
Selamat tinggal tahun 2025
Selamat datang tahuh 2026