Sedekah Bumi
Memasuki bulan Ngapit atau Selo atau Dzulqo'dah adalah masa dimana mayoritas desa di Kabupaten Pati melaksanakan acara sedekah Bumi atau orang Pati menyebutnya dengan Kabumi. Istilah kabumi begitu populer di Kabupaten Pati. Begitu orang menyebut istilah ini maka orientasinya adalah acara syukuran dalam rangka memperingati berdirinya desa tersebut.
Istilah kabumi mungkin hanya ada di kabupaten Pati. Kabupaten selain Pati sangat mungkin tidak menggunakan istilah ini. Jadi istilah ini menandakan bahwa orang tersebut memang berasal dari Pati. Memang tiap daerah mempunyai ciri khas sendiri-sendiri baik dari segi pakaian adat, bahasa maupun dialeknya.
Sedekah bumi adalah acara syukuran kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah bumi yang telah menghasilkan berbagai macam hasil bumi untuk kehidupan penduduk setempat. Sedekah bumi atau daerah lain menyebutnya dengan istilah nyadran atau manganan adalah wujud rasa syukur warga desa terhadap bumi yang ditempati yang telah memberikan kehidupan warga desa tersebut. Sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa maka digelarlah acara sedekah bumi. Mengapa harus sedekah bumi? Acara sedekah bumi tidak terlepas dari ajaran nenek moyang yang sudah turun-menurun sampai saat ini. Sedekah adalah salah satu cara memperlihatkan rasa syukur warga terhadap kenikmatan yang sudah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu dengan sedekah, warga melaksanakan ajaran agama bahwa sedekah adalah salah satu cara untuk menghindari malapetaka. Dalam ajaran agama disebutkan bahwa bersyukur terhadap nikmat akan menambah nikmat itu sendiri.
Ada sedekah bumi juga ada sedekah laut. Mayoritas sedekah bumi dilaksanakan oleh desa yang jauh dari laut. Sementara sedekah laut dilaksanakan oleh warga yang desanya berbatasan dengan laut. Sedekah bumi mayoritas dilaksanakan dalam bulan Ngapit atau Selo dalam kalender Jawa. Tidak diketahui secara pasti mengapa acara sedekah bumi selalu di bulan tersebut. Sedekah bumi lebih mudahnya adalah peringatan hari jadi desa. Peringatan hari jadi desa tidak diperingati pada tanggal sebagaimana peringatan hari kemerdekaan tujuh belas Agustus. Sedekah bumi diperingati sesuai dengan hari dan pasaran dalam kalender Jawa. Puncak acara sedekah bumi hanya disebutkan hari dan pasarannya, misal Ahad Legi, Selasa Pon dan seterusnya. Jadi peringatan hari jadi desa diperingati hari dan pasarannya. Dan itu terjadi di bulan Ngapit.
Rangkaian peringatan sedekah bumi sangat panjang bahkan sebulan sebelum puncak acara sudah ada kegiatan dari tingkat Rukun Tetangga, Rukun Warga sampai tingkat desa. Semua rangkaian kegiatan berakhir pada puncak acara yang biasanya diisi dengan kesenian berupa ketoprak ataupun wayang. Dua kesenian ini tidak bisa ditinggalkan oleh warga yang memperingati sedekah bumi.
Menurut penuturan beberapa sesepuh desa jika salah satu kesenian itu ditinggalkan bisa berakibat tidak baik terhadap kondisi desa. Walaupun dua jenis kesenian tersebut sekarang sudah ketinggalan jaman tetap saja puncak acara sedekah bumi menyajikan pagelaran salah satu jenis kesenian tersebut.
Sedekah bumi adalah kegiatan tahunan yang dilakukan oleh warga desa. 3 tahun terakhir rangkaian sedekah bumi agak berbeda. Perbedaan itu terletak dalam rangkaian acara karnaval yang mayoritas diisi dengan kehadiran sound horeg. Sound horeg ini mulai debutnya ketika acara kampanye pilpres 2024. Sampai saat ini rangkaian acara karnaval selalu ada sound horeg. Biaya mendatangkan sound horeg tidak lah murah. Sekali sewa bisa menghabiskan puluhan juta. Dalam satu desa tidak hanya 1 atau 2 sound horeg akan tetapi bisa puluhan. Pernah dalam sekali acara karnaval sedekah bumi di salah satu desa ada sekitar 25 sound horeg dimana sewa tiap sound horeg tersebut mencapai sekitar Rp. 20-40 juta. Bisa dibayangkan kalau sewa tiap sound horeg Rp. 40 juta maka bisa dihitung berapa biaya yang dikeluarkan oleh warga untuk acara karnaval tersebut. Bisa mencapai Rp. 1 Miliar. Itu hanya untuk satu acara saja belum acara lainnya.
Bagaimana bisa warga desa bisa mengadakan acara yang biayanya sampai segitu besar. Memang ada keresahan di antara warga karena iuran yang harus dikeluarkan untuk acara tersebut. Bagaimana tidak resah jika harus iuran yang besarannya sudah ditentukan dan tidak bisa dinego. Bahkan beberapa warga harus berhutang dalam rangka iuran tersebut.
Sangat disayangkan jika acara syukuran atau sedekah ini menjadi beban warga. Warga harusnya bisa menikmati hari jadi desa dengan riang gembira akan tetapi menjadi resah karena banyaknya iuran yang harus ditanggung. Kedepan mungkin sesepuh desa harus mengambil tindakan terkait keresahan ini agar tidak jadi problem serius di kemudian hari.
Sedekah bumi menjadi salah satu wadah mewujudkan rasa syukur warga atas kenikmatan yang didapatkan dari yang Maha Kuasa. Semoga sedekah bumi ini tetap langgeng dan dilaksanakan oleh warga desa sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan sedekah bumi, warga desa menjaga desanya dari hal-hal yang tidak diinginkan dan melestarikan desa dengan baik.