Kematian Sutrimo
Kematian Sutrimo menggemparkan jagad media sosial kita. Banyak netizen berspekulasi dan bahkan ada netizen yang berlagak seperti intelejen, ada yang berlagak seperti pengamat dan ada yang berlagak seperti penyidik. Itulah dunia media sosial kita. Sebelum aparat bergerak, netizen kita sudah bergerak dan pergerakannya sangat jauh sejauh air mengalir di Bengawan Solo.
Siapakah sebenarnya Sutrimo itu sampai-sampai netizen dan beberapa organisasi mendesak kepolisian untuk mengungkap penyebab kematiannya setuntas-tuntasnya dan sejelas-jelasnya. Netizen gemes dengan berita kematian Sutrimo itu. Setelah saya mencari tahu dari beberapa media ternyata Sutrimo itu adalah mantan kepala rumah tangga eks Jampidsus, Febri Adriansyah yang sekarang ditetapkan sebagai tersangka dugaan TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) oleh tim 9 Kejaksaan Agung.
Kematian Sutrimo tanggal 23 Juli 2026 kemarin diduga tidak wajar. Tidak ditemukan di badannya luka apapun kecuali keluar busa dari mulut dan hidungnya. Begitu berita yang viral di beberapa media baik online maupun media sosial. Pasca kematian Sutrimo yang tidak wajar kemudian netizen mencari tahu siapa Sutrimo itu.
Sutrimo yang berumur 42 tahun berasal dari Desa Wlahar Kecamatan Wangon Kabupaten Banyumas Provinsi Jawa Tengah. Sutrimo bekerja di rumah Febri Adriansyah (eks Jampidsus) sejak 2008. Sampai saat ini sudah sekitar 18 tahun. Sutrimo adalah kepala rumah tangga Febri Adriansyah. Pasca penangkapan Febri, Sutrimo langsung pulang ke rumah, Banyumas. Dia tidak membawa apapun kecuali Hp dan dompet. Isi dompetnya pun hanya cukup untuk perjalanan pulang.
Sutrimo dipercaya oleh Febri untuk mengurusi rumah tangganya. Tidak hanya rumah tangga akan tetapi mengecek semua perusahaan dan aset milik Febri. Bahkan Sutrimo pernah "ditugaskan" oleh Febri untuk mengecek pembangunan perusahaan di Sumatera yang waktu itu dikerjakan oleh seorang petinggi militer. Sutrimo memarahi petinggi militer tersebut karena pembangunan tidak sesuai RAB. Kemudian Sutrimo diminta pulang oleh Febri.
Sutrimo juga disuruh membuat bangunan rahasia atau bunker rumah pribadi Febri. Intinya Sutrimo mengetahui seluk beluk rumah tangga, aset dan bisnis Febri Adriansyah. Menurut para netizen Sutrimo ini adalah saksi kunci terhadap semua yang berkaitan dengan Febri.
Setelah pulang ke Banyumas, Sutrimo tidak balik lagi. 4 hari sesudahnya Sutrimo ditelpon entah oleh siapa untuk balik ke Jakarta mengurusi rumah tangga Febri. Setelah ditransfer uang untuk ongkos kembali ke Jakarta, Sutrimo berangkat ke Jakarta. Tak lama berselang, Sutrimo ditemukan meninggal di depan klinik kecantikan Mordent Clinic, Kebayoran Baru. Lokasi meninggalnya Sutrimo berjarak sekitar 450 meter dari rumah dinas Febri Adriansyah. Kemudian jenazahnya diantarkan oleh 4 orang yang berbadan tegap ke rumah sakit Muhammadiyah Taman Puring Jakarta Selatan.
Setelah sampai di RS Muhammadiyah, pihak rumah sakit menyatakan bahwa Sutrimo sudah meninggal sejak dalam perjalanan. Setelah dinyatakan meninggal, jenazah dimandikan dan dikafani kemudian diantar ke rumah duka di Banyumas. Keluarga curiga terhadap penyebab kematian Sutrimo, karena selama ini Sutrimo tidak pernah mengeluh sakit apapun. Selain itu keluarga juga curiga mengapa jenazah sudah dimandikan dan dikafani. Keluarga semakin curiga karena barang milik Sutrimo tidak disertakan dalam pengantaran jenazah tersebut. Hp, ATM, dompet dan barang milik lainnya belum dikembalikan ke keluarga.
Para netizen menduga Sutrimo adalah saksi kunci terhadap aset dan bisnis Febri Adriansyah. Ada dugaan orang-orang dekat Febri Adriansyah dihabisi agar aset, bisnis dan jaringan bisnis Febri Adriansyah luput dari kasus TPPU Febri. Dugaan netizen tersebut sangat mungkin benar karena pasca kematian Sutrimo yang tidak wajar, disusul kematian sopir pribadi Febri Adriansyah yang diduga ditembak mati oleh orang tidak dikenal.
Sementara dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh tim 9 Kejaksaan Agung, Febri menyebut 2 nama petinggi negeri ini yang tersangkut dengan kasusnya. Petinggi itu berinisial SS dan ST. Netizen pun berspekulasi bahwa inisial tersebut berkaitan erat dengan pejabat tinggi negeri ini. Salah satu inisial tersebut adalah orang dekat presiden Republik Indonesia.
Sebelum dijadikan tersangka, Febria Adriansyah adalah ketua satgas PKH (penertiban kawasan hutan) bentukan presiden untuk menertibkan kawasan hutan ilegal, menyelamatkan aset, serta memulihkan keuangan negara dari pelanggaran korporasi sawit dan tambang. Hasil dari Satgas PKH ini sangat fantastis karena bisa menyelamatkan hutan negara sekitar 2.3 juta hektar dan keuangan negara sekitar 10 triliun. Tidak hanya itu, Satgas PKH juga bisa mengembalikan hasil korupsi PT Wilmar sebesar 110 Triliun ke negara. Kinerja Satgas PKH yang diketuai oleh Febri Adriansyah ini memang sangat moncer. Satgas ini didukung penuh oleh menteri pertahanan.
Siapakah sebenarnya pelaku kematian Sutrimo dan sopir pribadi Febri? Ini adalah tugas kepolisian untuk mengusut tuntas setuntas-tuntasnya.. Ingat Febri dulu adalah penyidik Kejaksaan dan mempunyai pasukan. Febri paham betul bagaimana sebuah kasus dieksekusi. Banyak pihak yang terkait dengan kasus TPPU eks Jampidsus ini. Perhatikan konferensi pers Febri Adriansyah sebelum mengundurkan diri. Febri bilang bahwa rumah di Sentul yang digeledah kepolisian memang benar rumahnya akan tetapi uang dan emas ada pemiliknya. Siapa pemiliknya yang tahu adalah Febri. Apakah Febri akan buka-bukaan dalam kasus ini? Yang tahu hanya Allah yang maha kuasa dan Febri.