Wakil Asia di 32 besar piala dunia 2026
Piala dunia sudah menyelesaikan fase group dan memasuki fase gugur. Fase gugur ini diisi oleh 32 tim yang lolos dari fase group. Dari 32 tim yang lolos, mayoritas adalah tim dari Eropa. Kemudian disusul tim dari Afrika. Kemudian tim Amerika. Kemudian disusul tim dari Asia.
Eropa menyumbangkan 16 tim yang masuk dalam fase gugur ini. Separo dari tim yang berlaga di 32 besar adalah wakil dari UEFA. Sementara wakil dari benua Afrika ada 9 tim. Wakil dari benua Amerika ada 5 tim dan wakil dari Asia 2 tim.
Asia yang luas benuanya paling luas di planet ini hanya bisa meloloskan 2 wakil yaitu Jepang dan Australia. Sementara benua Eropa yang hanya sepertiga dari benua Asia menyumbangkan 16 tim. Ini menunjukkan bahwa kualitas sepak bola Eropa masih menjadi kiblat sepak bola dunia. Liga-liga di benua Eropa menjadi tolok ukur kemajuan sepak bola dunia.
Pembinaan sejak dini dan managemen sepak bola modern seperti yang diterapkan di klub-klub Eropa menjadi tolak ukur kualitas sepak bola benua Eropa. Berbeda dengan benua Asia. Liga sepak bola di Asia belum semaju liga sepak bola di Eropa. Pembinaan pemain usia dini belum seperti pembinaan pemain usia dini di Eropa. Begitu juga managemen klub di Asia masih tertinggal jauh dengan Eropa.
Bagaimana dengan di Afrika. Mengapa Afrika bisa meloloskan 9 tim dalam babak 32 besar ini? Afrika memang berbeda. Kualitas liga Afrika belum sekelas liga Asia apalagi Eropa. Akan tetapi mayoritas pemain Afrika berlaga di liga Eropa. Pemain-pemain Afrika ditempa di liga Eropa yang keras dan berkualitas sehingga menghasilkan pemain standar Eropa. Walaupun pembinaan pemain sepak bola di Afrika tidak sebaik di Asia akan tetapi karena mayoritas pemain Afrika berlaga di liga Eropa maka kualitas permainannya pun nyaris sama dengan kualitas pemain Eropa.
Bagaimana dengan zona Amerika. Amerika mempunyai tradisi nyaris sama dengan Afrika dimana banyak pemain negara Amerika yang berlaga di liga Eropa. Pembinaan pemain sepak bola di Amerika Latin lebih maju dibandingkan dengan negara Afrika maupun Asia.
Dari beberapa kali piala dunia, Asia semakin merana. AFC harus segera berbenah, agar kualitas persepakbolaan Asia semakin baik dan minimal menyamai negara Afrika. Bayangkan negara seperti Tanjung Verde (wakil Afrika) yang hanya mempunyai penduduk sekitar 300 ribu bisa lolos ke 32 besar. Sementara negara yang berpenduduk ratusan juta tidak mampu mencari pemain sepak bola yang berkualitas. Ironis memang.
Wakil asia yang hanya 2 itu pun satunya bukan benua Asia akan tetapi Australia yang lebih dekat dengan keturunan Eropa. Memang ironis. Populasi terbanyak di dunia ada di Asia, mengapa sepak bola Asia selalu kalah dengan benua lain. Apakah populasi besar tersebut menandakan tidak berkualitas. Faktor demograsi besar Asia belum mampu dimanfaatkan secara tepat oleh negara-negara Asia. Mungkin hanya Jepang yang bisa memanagemen liganya sehingga menghasilkan pemain sepak bola yang bagus.
Tiongkok yang mempunyai populasi terbesar di dunia belum menampakkan sepak bola yang maju bahkan tim Tiongkok pun kualiatasnya sama dengan timnas Indonesia. Begitu juga India yang mempunyai populiasi besar ternyata kualitas sepak bolanya belum bisa berbicara di kancah internasional.
Korea Selatan yang kita harapkan bisa berbicara banyak dalam piala dunia kali ini ternyata tersingkir lebih dahulu. Wakil Asia yang mayoritas dari negara Timur Tengah tidak bisa berbicara banyak. Saudi Arabia, Qatar, Iran, Irak dan Yordania harus menelan kekalahan di awal-awal pertandingan. Tak satu pun negara dari Timur Tengah ini menang dalam babak penyisihan. Iran yang diharapkan lolos ke babak fase gugur dengan predikat urutan ketiga terbaik dari 8 tim yang lolos ternyata harus menelan pil pahit tidak lolos karena harus berbagi angka dengan Mesir (wakil Afrika) dalam pertandingan terakhir. Jadilah Iran sebagai tim spesialis imbang atau seri.
Bagaimana dengan timnas Indonesia? Timnas Indonesia masih jauh panggang dari api untuk lolos ke piala dunia. Ada harapan ketika timnas Indonesia dibesut oleh pelatih dari Korea Selatan untuk tampil di piala dunia akan tetapi kandas di tengah jalan karena pelatih tersebut dipecat ditengah perjalanan menuju piala dunia 2026. Berbagai upaya telah dilaksanakan oleh PSSI untuk membuat timnas Indonesia naik kelas seperti mendatangkan pelatih dari Eropa, Amerika Latin, naturalisasi pemain ternyata hasilnya masih zonk.
Semoga AFC segera berbenah pasca piala dunia 2026 ini. 2 wakil dari Asia di fase gugur ini mencerminkan kondisi AFC sangat parah dan tertinggal dengan benua lain.