Krisis Minyak
Perang AS-Israil vs Iran sudah berjalan 5 hari dan belum ada tanda-tanda berhenti bahkan eskalasinya semakin meningkat. Negara-negara Teluk yang ada pangkalan militer Amerika mulai bersuara dan mempersiapkan angkatan bersenjatanya untuk melindungi kepentingan negaranya. Pasukan Peninsula yang merupakan pasukan gabungan negara-negara Teluk kemarin unjuk kekuatan dengan melakukan parade kendaraan tempur dari Arab Saudi ke Bahrain.
Serangan terhadap Iran juga belum ada tanda-tanda berhenti bahkan AS-Israil menargetkan komplek penting Iran seperti istana kepresidenan, markas angkatan bersenjata Iran, Universitas dan lain sebagainya. Iran juga tidak mengurangi serangannya ke Israil dan pangkalan AS. Kabar terakhir keduataan besar AS di Riyad Arab Saudi dibom oleh Iran dan hancur.
Penutupan selat Hormuz oleh Iran membuat pasokan minyak ke seluruh dunia berhenti. Selat Hormuz adalah salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia. 20% pasokan minyak dunia berasal dari jalur ini. Akibatnya harga minyak melonjak di seluruh dunia. Tidak hanya minyak saja akan tetapi LNG juga naik drastis. Kenaikan signifikan harga minyah dan LNG terlihat jelas di benua Eropa. Kenaikan dua komoditi ini menyentuh angka 50% bahkan lebih. Prakiraan para pengamat ekonomi harga minyak dunia akan mencapai usd $100 per barel bahkan lebih.
Indonesia sendiri masih mengimport bahan bakar minyak untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri. Import BBM Indonesia mencapai nyaris 50% kebutuhan nasional. Import BBM ini berasal dari Nigeria, Arab Saudi, Singapura, Asutralia dan Amerika. Saat ini Indonesia mengalihkan mayoritas pembeliaan BBM ke Amerika karena ada perjanjian dagang antara AS-Indonesia. Jika ada penutupan selat Hormuz maka pasokan import untuk Indonesia juga kena imbasnya.
Menurut Bahlil, Menteri Energi dan Sumber daya mineral, Bahan bakar minyak kita hanya cukup untuk 20 hari ke depan. Jika perang AS-Israil vs Iran masih saja berlanjut dikhawatirkan pasokan minyak ke Indonesia mengalami keterlambatan yang mengakibatkan terjadinya kelangkaan BBM. Tidak hanya langka akan tetapi harga pun akan naik karena pasokan terhenti akibat penutupan selat Hormuz. Mungkin Indonesia akan mengalihkan mayoritas pembelian BBM ke Amerika yang mempunyai stok melimpah gegara pasokan dari Venezuela. Pertanyaannya apakah BBM di Amerika sesuai dengan BBM di Indonesia yang selama ini berasal dari Singapura, Arab Saudi, Nigeria ataupun Australia. Kalau tidak sesuai maka import BBM dari Amerika ini sama juga bohong. Apakah kilang minyak kita tidak bisa mengolah BBM dari Amerika seperti bisa mengolah BBM dari Singapura, Arab Saudi dan Nigeria. Inilah yang menjadi pertanyaan saat ini. Indonesia jelas sangat berdampak dengan penutupan selat Hormuz ini karena kuota import BBM Indonesia separuh dari kebutuhan nasional.
Harusnya Indonesia segera membangun kilang minyak yang bisa mengolah BBM dari manapun. Negara luas seperti Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak nomor 5 dunia ternyata belum mempunyai kilang minyak yang mencukupi untuk kebutuhan warganya. Ironis memang. Jika perang di Timur Tengah ini berlangsung lama dipastikan harga minyak akan naik dan ini sangat ditakuti oleh pemerintah Indonesia. Jika harga minyak naik maka semua harga barang akan naik. Efeknya kredibilitas pemerintah akan dipertaruhkan.
Kembali ke perang regional Timur Tengah. Saat ini Iran masih kukuh untuk menutup selat Hormuz dan tidak memperbolehkan kapal tanker manapun untuk lewat kecuali kapal tanker Rusia dan Tiongkok. Wajar saja jika Iran hanya memperbolehkan kapal tanker 2 negara ini karena dua negara inilah yang membantu Iran dalam menghadapi AS-Israil. Kapal tanker Amerika, Inggris kemarin berusaha untuk tidak mengindahkan peringatan Iran maka ditembak oleh pasukan Iran dan tenggelam. Penutupan selat Hormuz memang salah satu taktik Iran untuk membunuh ekonomi Amerika dan sekutunya. Taktik Iran lainnya adalah membombardir kilang-kilang utama negara Teluk yang menyuplai pasokan BBM Amerika dan sekutunya. Dengan begitu kebutuhan BBM Amerika dan sekutunya akan terhambat. Bagi Amerika, BBM tidak ada masalah karena sudah mendapatkan pasokan dari Venezuela yang sangat melimpah. Bagi sekutu Amerika seperti negara-negara Eropa akan berakibat fatal karena berimbas dalam perekonomian mereka. Jika harga minyak naik maka dipastikan akan membebani fiskal negara sekutu Amerika.
Jika perang regional Timur Tengah ini berjalan lama misal berjalan sebulan maka dipastikan pasokan minyak dunia terdampak. Krisis ekonomi dunia akan terjadi di mana-mana. Perang ini mengingatkan kita ketika perang minyak antara negara Arab dengan Israil dimana saat itu negara Arab menghentikan pasokan minyak ke negara manapun sehingga tumbanglah negara-negara Barat yang mendukung Israil. Kemungkinan Iran akan menggunakan minyak sebagai senjata untuk melawan hegemoni dan dominasi Amerika dan sekutunya.
Krisis ekonomi atau malaise dunia adalah indikasi dunia akan menuju perang dunia seperti perang dunia I dan perang dunia II yang diawali dengan krisis ekonomi dunia. Apakah perang regional Timur Tengah ini akan menjadi pemicu perang dunia IV. Saya menyebutnya perang dunia IV karena perang dunia III sudah terjadi di wilayah Eropa yaitu perang antara Rusia vs Ukrain-Nato. Semoga saja tidak. Kita berdoa semoga perang regional Timur Tengah ini segera berakhir dan dunia kembali dalam perdamaian.