Perbedaan Hisab
Setiap datangnya bulan Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah selalu menjadi perdebatan di kalangan pegiat hisab-rukyat. Perdebatan itu terkait dengan hasil hisab dalam menentukan 3 bulan hijriyah tersebut. Selain hasil hisab juga terkait kriteria yang dipakai oleh setiap pegiat hisab-rukyah. Sebenarnya perdebatan antara kelompok hisab dan pengamal rukyah sudah dijembatani oleh Kementerian Agama RI dengan membuat sebuah sistem yang dinamakan dengan sistem Ephemeris Hisab Rukyah. Penamaan sistem Ephemeris Hisab-Rukyah ini dilatarbelakangi karena munculnya agregasi kelompok hisab dan pengamal rukyah.
Mengapa mereka sampai berdebat bahkan sampai keluar kata-kata yang tidak pantas? Tidak lain dan tidak bukan karena mereka mempertahankan egonya masing-masing. Sistem hisab sebenarnya banyak sekali. Sistem perhitungan ini tidak hanya satu akan tetapi puluhan. Secara garis besar sistem perhitungan dibagi menjadi tiga yaitu taqribi, tahkiki dan asriyah (tahkiki bi tahkik).
Sistem taqribi adalah sistem perhitungan hisab-rukyah yang hasilnya tidak sesuai dengan fakta. Sistem perhitungan ini didominasi oleh literatur kitab-kitab klasik seperti sistem Sullamun Nairain, Ittifaq Dzati Bain, Fathur Rauful Manan, Syamsul Hilal dan lain sebagainya. Taqribi artinya adalah kira-kira. Apakah sistem ini memang hanya kira-kira? Tidak, sistem ini tidak berdasarkan kira-kira. Sistem ini didasarkan pada tabel astronomis yang merupakan karya ulama lampau. Tabel Astronomis ini merupakan hasil penelitian ulama lampau terkait pergerakan benda langit. Tabel inilah yang kemudian dikodifikasi dan dijadikan referensi oleh kitab-kitab diatas. Mengapa hasilnya belum sesuai dengan fakta di lapangan? Tabel astronomis hasil pengamatan ulama lampau harus disesuaikan dengan keadaan sekarang karena hasil pengamatan zaman dahulu jelas berbeda dengan pengamatan zaman sekarang. Maka dari itu sistem taqribi ini tidak begitu populer bagi pegiat hisab. Sistem taqribi ini masih dikaji oleh kalangan pesantren di negara ini sebagai warisan intelektual masa lampau.
Sistem hakiki adalah sistem perhitungan hisab-rukyah yang hasilnya mendekati fakta. Sistem perhitungan ini lebih modern dibandingkan dengan sistem taqribi. Termasuk dalam sistem hakiki ini adalah sistem Khulasotul Wafiyah, Matlaus Sa'id, Hisab Hakiki, Nurul Anwar dan lain sebagainya. Sistem ini menggunakan tabel astronimis yang lebih baru dan sudah ada koreksi terhadap tabel astronomis sebelumnya sehingga hasilnya mendekati fakta sebenarnya. Sistem tahkiki ini merupakan koreksi terhadapa sistem taqribi. Cara pengerjaan sistem tahkiki nyaris sama dengan sistem Asriyah (modern). Algoritma sistem tahkiki ini nyaris menyamai dengan algoritma sistem terbaru (asriyah). Dua sistem di atas yaitu taqribi dan tahkiki didominasi oleh kalangan pesantren yang tetap mempertahankan warisan intelektual masa lalu.
Sistem asriyah (tahkiki bit tahkik) yaitu sistem perhitungan hisab-rukyah yang menggunakan sistem modern saat ini. Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi maka penelitian terhadap benda langit semakin canggih. Observasi terhadap benda langit tidak lagi dilakukan secara manual akan tetapi memakai alat-alat canggih yang bisa dikirim ke luar angkasa untuk memantau pergerakan benda langit. Setiap menit bahkan detik pergerakan benda langit selalu dicatat oleh sistem sehingga didapat hasil yang akurat sesuai dengan fakta. Hasil perhitungan sistem asyriyah ini lebih tepat dan akurat dibandingkan dengan hasil perhitungan dua sistem sebelumnya karena didasarkan pada tabel hasil pengamatan benda langit saat ini. Sistem ini didominasi sistem perhitungan modern seperti sistem perhitungan Jeem Meuss, New Comb, Alamanak Nautika, Durrul Aniq, Irsyadul Murid, Ephemeris Hisab-Rukyah dan lain sebagainya. Hasil hisab sistem asyriyah inilah yang sekarang dipedomani oleh para pegiat hisab-rukyah. Walaupun hasil perhitungannya tepat dan akurat akan tetapi masih ada selisih antar sistem perhitungan sistem asriyah ini akan tetapi selisih itu tidak begitu fatal karena hanya selisih detik bukan menit apalagi selisih jam. Akurasi hasil hisab sistem asyriyah inilah yang dijadikan pedoman pengambil keputusan dalam menentukan 3 awal bulan hijriyah yaitu Ramadan, Syawal dan Dzulhijjah.
Semua sistem perhitungan diatas baik itu taqribi, tahkiki dan asriyah bisa diakses oleh siapapun tidak hanya pegiat hisab-rukyah akan tetapi semua orang awam bisa mengakses sistem perhitungan tersebut. Sistem perhitungan tersebut sekarang sudah bisa diunduh dimana-mana. Sistem perhitungan tersebut sudah berupa aplikasi dimana semua orang tinggal memakai saja. Untuk mengetahui awal bulan hijriyah tidak perlu lagi orang harus ahli hisab. Untuk mengetahui awal bulan hijriyah tidak diperlukan keahlian menghitung dan paham tentang ilmu hisab-rukyah. Untuk mengetahui awal bulan hijriyah tinggal membuka aplikasi dan mencari bulan dan tahun yang diinginkan maka hasil perhitungan akan muncul secara otomatis.
Apakah dengan tersedianya aplikasi sistem perhitungan awal bulan hijriyah ini kemudian ilmu hisab akan musnah? Apakah dengan tersedianya aplikasi sistem perhitungan awal bulan hijriyah ini tidak perlu lagi orang mempelajari ilmu hisab? Ilmu hisab tetap diperlukan. Ilmu hisab akan berkembang sesuai dengan perkembangan teknologi. Aplikasi hanya berfungsi untuk memudahkan bagi kalangan awam. Aplikasi dibuat berdasarkan algoritma ilmu hisab. Bagaimanapun ilmu hisab akan tetap dibutuhkan sampai kapanpun.
Mengapa terjadi perbedaan hasil perhitungan ilmu hisab walaupun sama-sama memakai sistem asyriyah? Perbedaan itu dikarenakan tabel astronomi yang digunakan berbeda, akan tetapi perbedaan hasil hisab sistem asyriyah tidak terlalu signifikan. Mengapa sampai sekarang masih ada perbedaan dalam penentuan awal bulan hijriyah?
Masalah perbedaan penentuan awal bulan hijriyah dikarenakan adanya faktor kriteria dan politis. 2 faktor inilah yang mempengaruhi perbedaan penetapan awal bulan hijriyah. Jika pegiat hisab-rukyah menyandarkan egonya masing-masing demi persatuan umat maka perbedaan penetapan awal bulan hijriyah bisa dihindari.