Dzulhijjah 1447 H
Sebentar lagi kita akan memasuki bulan haji alias bulan Dzulhijjah atau bulan besar dalam istilah kalender Jawa. Mengapa begitu pentingnya bulan Dzulhijjah bagi umat Islam? Karena dalam bulan Dzulhijjah ada ritual yang dilaksanakan secara bersamaan dalam satu tempat dan satu waktu oleh umat Islam yaitu prosesi ibadah haji. Prosesi ibadah haji yang dimulai tanggal 8 sampai 13 Dzulhijjah harus tepat tanggalnya agar tidak menimbulkan keraguan di kalangan umat Islam. Prosesi wukuf di Arofah sebagai puncak haji dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah. Berturut-turut setelah prosesi wukuf di Arofah kemudian Mabit di Muzdalifah, Mabit di Mina, lempar jumroh Aqobah, tahallul awal, lempar jumroh ula, wustho dan aqobah, thowaf ifadhoh dan tahallul tsani. Prosesi itu harus dilakukan oleh seluruh umat Islam yang melaksanakan haji di tanah suci.
Berdasarkan hasil perhitungan akhir Dzulqo'dah 1447 H dengan markaz perhitungan Kabupaten Pati dengan titik koordinat lintang -060 45’13” dan bujur 1100 56’44.8” BT dengan menggunakan hisab tahkiki bit tahkik (Asriyah) metode Jeem Meus. Secara hisab, ijtimak atau konjungsi terjadi pada tanggal 29 Dzulqo'dah 1447 H bertepatan dengan tanggal 17 Mei 2026 pukul 03: 00: 55 WIB. Adapun hasil hisab awal Dzulhijjah 1447 H sebagai berikut:
1. Ijtimak akhir Dzulqo'dah 1447 H terjadi pada tanggal 29 Dzulqo'dah 1447 H atau bertepatan dengan tanggal 17 Mei 2026 pukul 03:00:55 WIB.
2. Matahari terbenam pukul 17:29:22 WIB
3. Bulan terbenam pukul 17:48:44 WIB.
4. Tinggi hilal hakiki 040 50’32.86”
5. Tinggi hilal mar'i : 030 50’32.86”
6. Lama hilal di atas ufuk : 0 jam 19 menit 22 detik
7. Sudut Elongasi: 090 56’49”
8. Azimut Matahari ketika terbenam: 19o 20’ 32.36” B-U atau 289o 20’ 32.36” UTSB
9. Azimut Bulan ketika terbenam 27o 01’ 20.82” B-U atau 297o 01’ 20.82” UTSB
10. Selisih Azimut Matahari dan Bulan : 07o 40’ 48.46”
11. Posisi Hilal : Di belahan bumi utara di utara matahari.
12. Posisi hilal : Miring ke Utara
Berdasarkan data hisab diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Tinggi hilal sudah memenuhi kriteria MABIMS. Kriteria MABIMS untuk ketinggian hilal minimal 3 derajat
Sudut elongasi bulan (jarak antara matahari dan bulan) sudah memenuhi kriteria MABIMS. Kriteria MABIMS untuk sudut elongasi bulan minimal 6.4 derajat.
Berdasarkan data hisab tersebut maka awal Dzulhijjah 1447 H bertepatan dengan tanggal 18 Mei 2026 M.
Adapun ketinggian hilal seluruh Indonesia sebagai satu matla' -satu kesatuan negara- bervariasi berkisar antara 3 derajat - 6 derajat. Walaupun secara hisab awal Dzulhijjah 1447 H sudah bisa ditentukan akan tetapi tetap menunggu sidang isbat Kementerian Agama RI. Sidang isbat akan dilaksanakan pada sore hari tanggal 17 Mei 2026 pasca dilaksanakannya rukyatul hilal di sejumlah titik yang melakukan observasi hilal.
Secara teori visiblitas hilal, hilal awal Dzuljhijjah 1447 H sudah bisa diamati dengan alat optik atau teropong. Bahkan untuk ketinggian 6 derajat dengan sudut elongasi di atas 9 derajat sudah bisa diamati dengan mata telanjang. Semoga ada titik observasi hilal yang melihat hilal sehingga awal Dzulhijjah 1447 H bisa ditetapkan pada hari berikutnya yaitu 18 Mei 2026 M.
Bagaimana kemungkinan penampakan hilal saat dilakukan observasi pada tanggal 17 Mei 2026 M? Peluang penampakan hilal sangat besar sekali. Berdasarkan data prakiraan cuaca dari BMKG mayoritas langit di Indonesia pada sore hari tanggal 17 Mei 2026 M terlihat terang dan tidak berawan. Berdasarkan data tersebut kemungkinan untuk melihat hilal sangat besar sekali.
Kalau hilal terlihat pada observasi tanggal 17 Mei 2026 maka 1 Dzulhijjah 1447 H bertepatan dengan tanggal 18 Mei 2026 M. Jika tanggal 01 Dzulhijjah 1447 H bertepatan dengan tanggal 18 Mei 2026 maka pelaksanaan wukuf di Arofah pada tanggal 09 Dzulhijjah 1447 H bertepatan dengan tanggal 27 Mei 2026 M. Sementara hari raya Idul Adha atau hari raya Qurban bertepatan dengan tanggal 28 Mei 2026 M.
Selamat menunaikan ibadah haji dan selamat hari raya Idul Adha 1447 H.