Kepuasan Turun
Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survey terhadap jalannya pemerintahan kurun waktu 5-19 Juli 2026. Survey ini digelar untuk mengetahui respon masyarakat terhadapa kepemimpinan presiden Prabowo Subianto selama menjabat kurang dari 2 tahun ini. Sebelumnya SMRC juga merilis hasil survey pada akhir tahun 2025. Belum ada lembaga survey yang merilis kepuasan masyarakat terhadap pemerintahan presiden Prabowo Subianto.
SMRC adalah salah satu lembaga survey yang konsisten melakukan survey dan merilis hasilnya ke publik terkait kondisi negara saat ini. Pendiri SMRC, Saiful Mujani pernah diancam oleh orang tidak dikenal karena kevokalannya dalam menilai pemerintahan presiden Prabowo Subianto melalui survey ini.
Survey yang dilakukan oleh SMRC kurun waktu 5-19 Juli 2026 tidak hanya menilai kepemimpinan Prabowo Subianto saja akan tetapi ada beberapa survey yang juga dilakukan diantaranya adalah elektabilitas partai, elektabilitas calon-calon presiden, program khusus presiden: MBG dan KDMP, Kondisi ekonomi politik dan aprroval rating presiden. Untuk lebih jelasnya silahkan mengunjungi website SMRC di https://saifulmujani.com/survei/laporan-survei/.
Untuk kepuasaan publik terhadap kondisi ekonomi dan politik atas kinerja presiden Prabowo Subianto turun drastis. Saat dilakukan survey kepuasaan publik terhadap kinerja presiden Prabowo Subianto hanya mencapai 51% yang sebelumnya 81,2% pada November 2025. Sementara publik yang tidak puas dengan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mencapai 49,4% yang sebelumnya hanya mencapai 31,7% pada bulan November 2025, mengalami kenaikan 17.7% pada bulan Juli 2026.
Penurunan kepuasaan publik terhadap pemerintahan Prabowo Subianto ini disebabkan banyak hal diantaranya adalah antrean pembelian BBM di SPBU, banyaknya pemutusan hubungan kerja, lapangan kerja langka, banyaknya pengangguran, naiknya masyarakat miskin versi bank dunia, harga bahan pangan semakin naik, keracunan program unggulan pemerintah (MBG) dan lain sebagainya.
Selain merilis kepuasaan publik terhadap kinerja pemerintah, SMRC juga merilis elektabilitas presiden Prabowo Subianto dibandingkan dengan calon presiden lainnya. Hasil survey SMRC mengatakan bahwa elektabilitas presiden Prabowo Subianto kalah telak dibandingkan dengan elektabilitas Dedy Mulyadi, gubernur Jawa Barat. Elektabilitas Prabowo Subianto hanya 14,5% sementara elektabilitas Dedy Mulyadi mencapai 35%. Bahkan jika digabungkan antara elektabilitas Prabowo Subianto (14.5%) dengan wakilnya, Gibran Rakabumingraka (7.7%) masih kalah jauh dengan elektabilitas Dedy Mulyadi. Jika berpegangan pada hasil survey ini, jelas Prabowo Subianto jika mencalonkan diri menjadi presiden periode kedua akan kalah dengan Dedy Mulyadi.
Bagaimana persepsi publik terhadap program unggulan presiden Prabowo Subianto yaitu makan bergizi gratis dan koperasi desa merah putih? Hasil survey SMRC mengggambarkan bahwa publik tidak yakin terhadap program MBG dan KDMP dengan prosentase sangat tinggi yaitu 61%. Publik pesimis dengan program unggulan presiden Prabowo Subianto tersebut. Banyaknya keracunan yang disebabkan oleh MBG menjadi indikasi bahwa publik tidak lagi percaya terhadap program tersebut. Apalagi tidak ada tanggung jawab terhadap keracunan yang ditimbulkan oleh MBG. Tidak satupun SPPG yang dijadikan tersangka atau dipenjara gegara keracunan yang ditimbulkan oleh MBG.
Publik juga pesimis dengan program unggulan presiden lainnya yaitu Koperasi Desa Merah Putih. Sebanyak 61% publik tidak percaya bahwa KDMP akan maju dan berkembang. Indikasi kebocoran anggaran pembuatan gedung KDMP yang begitu viral tidak ada tindak lanjut dari pemerintah. Publik merasa dibohongi dengan anggaran pembangunan gedung KDMP. Bagaimana tidak dibohongi? Anggaran pembangunan gedung KDMP yang dianggarkan Rp. 1.6 Miliar kenyataan di lapangan pembangunan gedung KDMP hanya separo dari anggaran. Transparansi anggaran pembangunan gedung KDMP tidak ada.
Elektabilitas partai juga menjadi sasaran survey SMRC kali ini. Gerindra sebagai partai pemerintah elektablitasnya menurun jika dibandingkan dengan kondisi pada akhir 2025. Pada survey November 2025 elektabilitas partai Gerindra mencapai 23.3% dan naik drastis pada Pebruari-Maret 2026 menjadi 29.3%. Saat dilakukan survey bulan Juli 2026, elektabilitas partai Gerindra hanya 16.9%. Penurunan elektabilitas partai Gerindra ini sangat drastis. Penurunan elektabilitas ini sejalan dengan penurunan elektabilitas presiden Prabowo Subianto. Walaupun partai Gerindra masih menjadi partai nomor satu akan tetapi elektabilitas semakin menurun.
Bisa jadi kita setuju dengan hasil survey tersebut ataupun sebaliknya. Yang jelas kondisi ekonomi negara ini tidak sesuai dengan harapan masyarakat. Lihatlah antrean pembelian BBM setiap hari di mayoritas SPBU. PHK terhadap buruh pabrik setiap hari. Keracunan program unggulan pemerintah setiap hari terjadi. Belum lagi harga-harga barang semakin naik dan daya beli masyarakat menurun. Semoga pemerintah segera menemukan solusi permasalah ekonomi saat ini.