MBG Jalan Terus
Anak-anak sekolah sudah memasuki libur semester. Sejak pertengahan bulan Desember 2025 kemarin, praktis tidak ada aktivitas belajar-mengajar di sekolahan kurang lebih 2 minggu. Bagaimana dengan program makan bergizi gratis? Ternyata program makan bergizi gratis ini terus berjalan walaupun kalender pendidikan libur. Bagaimana praktek lapangannya? Apakah diantar ke rumah masing-masing siswa ataukah siswa tetap masuk hanya untuk mengambil MBG? atau bagaimana?
Entahlah yang jelas program MBG harus tetap berjalan walaupun kalender pendidikan libur. Makan Bergizi Gratis untuk murid sekolah seharusnya mengikuti kegiatan kalender pendidikan. Jika pendidikan libur maka MBG libur begitu juga jika pendidikan masuk maka MBG berjalan. Itu seharusnya. Akan tetapi faktanya tidak demikian. Walaupun kalender pendidikan libur dan siswa tidak masuk sekolah ternyata MBG jalan terus. MBG tidak mengenal libur sekolah. MBG harus jalan terus walaupun siswa libur. Bahkan menurut wakil ketua BGN, pemberian MBG harus terus-menerus tanpa melihat adanya libur sekolah. Bahkan ketua BGN juga menguatkan pernyataan wakilnya tersebut.
Logikanya, kalau sekolah libur MBG harusnya libur akan tetapi ini tidak. Apakah pemberian MBG selama libur sekolah ini efektif? atau pemberian MBG selama liburan sekolah ini program yang harus dilaksanakan tanpa mengenal kalender libur atau karena sebab lain. Inilah yang menjadi pertanyaan publik dan pengamat pendidikan. Kalau pemberian gizi ini tidak mengenal libur mengapa tiap hari Ahad MBG libur?
Entahlah, pelaksanaan MBG yang baru berjalan beberapa bulan ini ternyata menuai banyak kontroversi. Tidak hanya pemberian MBG disaat liburan sekolah saja akan tetapi menu MBG yang asal-asalan, menu MBG yang tidak memenuhi ketentuan gizi, menu MBG yang kadaluarsa dan lain sebagainya.
MBG kalau untuk anak sekolah, ketika sekolah libur seharusnya MBG juga libur. Pemberian MBG di masa sekolah libur membuat kalang kabut civitas sekolah. Kadang sekolah mewajibkan siswanya untuk masuk hanya sekadar mengambil MBG. Kadang ada sekolah yang menyerahkan kepada semacam panitia sekolah untuk membagikan MBG kepada siswanya. Menu MBG pun terkesan asal-asalan. Bahkan ada MBG yang menunya dikemas hanya terdiri dari jajanan anak-anak. Pemberian MBG selama seminggu dijadikan satu hari pengambilan.
Kita perlu khawatir dengan program unggulan presiden ini. Di lapangan program ini tidak sesuai dengan keinginan mulia presiden. Kalau kita jujur, MBG selama liburan sekolah ini seharusnya dihentikan dan dialokasikan kepada warga yang berdampak bencana. Bayangkan kalau tiap hari biaya MBG ini sekitar Rp. 1 Triliun maka selama 15 hari akan terkumpul Rp, 15 Triliun dan biaya itu untuk membantu saudara kita yang terkena dampak banjir bandang dan tanah longsor di Aceh dan Sumatera.
MBG tidak perlu berhenti ketika libur sekolah akan tetapi penyalurannya diubah. Semula MBG untuk siswa sekolah, ketika libur sekolah dialihkan kepada masyarakat yang berdampak bencana. Jika ini dilakukan maka MBG akan sangat berguna dibandingkan dengan tetap menyalurkan MBG kepada siswa yang menikmati liburan sekolahnya. Bagaimana nanti kalau bulan Ramadhan ketika mayoritas siswa melaksanakan puasa? Apakah MBG akan tetap jalan atau waktu penyalurannya diubah? atau bagaimana? Entahlah. Kalau MBG dimaknai sebagai program yang tidak boleh berhenti di waktu libur maka program MBG hanya semacam proyek seperti proyek lain yang hanya mendapatkan cuan.
Setahun pelaksanaan MBG seharusnya menjadi evaluasi program ini. Ke depan semoga BGN melakukan evaluasi pelaksanaan MBG secara menyeluruh. Faktanya banyak menu MBG yang dikeluhkan oleh siswa sekolah bahkan kasus keracunan massal berulang kali terjadi. Semoga BGN (Badan Gizi Nasional) memperbaiki pelaksanaan MBG agar program unggulan presiden ini benar-benar meningkatkan gizi anak Indonesia bukan meningkatkan cuan pemilik SPPG.