Muharram 1448 H
Tahun 1447 H segera berakhir dan tahun 1448 H akan segera datang. Begitu cepat waktu berlalu tiba-tiba sudah memasuki tahun baru lagi. Hampir 20 hari saya tidak membuat catatan di blog pribadi ini karena kesibukan tugas layanan di masyarakat. Bulan Dzulhijjah atau bulan Besar dalam istilah Jawa adalah bulan dimana masyarakat Jawa menumpahkan seluruh hajatnya di bulan ini. Tidak hanya hajat pernikahan akan tetapi juga hajat sunatan dan lain sebagainya. Bulan besar bagi orang Jawa memiliki arti tersendiri. Makanya di bulan Besar ini masyarakat Jawa penuh dengan hajatan.
Kembali ke tahun baru hijriyah. Tahun baru hijriyah kali ini -1448 H- kemungkinan akan terjadi perbedaan. Perbedaan itu terjadi antara madzhab hisab dan pengamal rukyatul hilal. Secara hisab, data astronomis bulan dan matahari sebagai berikut:
Ijtimak akhir Dzuhijjah 1447 H terjadi pada Senin, 15 Juni 2026 pukul 09:54:02 WIB.
Data matahari :
Terbenam matahari pukul 17:31:29 WIB
Azimut matahari terbenam: 293o 18' 26.24'' UTSB atau 23o 18' 26.24'' B-U
Data bulan:
Bulan terbenam pukul 17:40:37 WIB
Azimut bulan terbenam: 298o 29' 04.87'' UTSB atau 28o 29' 04.87'' B-U
Sudut Elongasi bulan: 06o 24' 13.76''
Tinggi hilal mar'i: 01o 17' 06.32''
Tinggi hilal hakiki: 02o 17' 06.32''
Lama hilal di atas ufuk : 0 jam 9 menit 8 detik
Selisih azimut Matahari dan bulan : 05o 10' 38''
Posisi hilal di belahan bumi utara di utara matahari (hilal miring ke utara)
Berdasarkan data hisab diatas (data hisab berdasarkan markaz Kabupaten Pati) bahwa ketinggian hilal masih dibawah kriteria Neo MABIMS yaitu tinggi hilal minimal 3 derajat, sementara sudut elongasi bulan sudah memenuhi kriteria Neo MABIMS (minimal sudut elongasi 6.4 derajat)
Adapun ketinggian hilal seluruh Indonesia berkisar antara 2o-3o. Ketinggian hilal paling tinggi ada di Banda Aceh yaitu nyaris 4 derajat (3.99o ). Jika mengacu pada kriteria Neo Mabims maka bulan Muharram 1448 H di seluruh Indonesia jatuh pada tanggal 16 Juni 2026 M.
Berbeda dengan pengamal rukyatul hilal. Awal bulan Muharram 1448 H didasarkan pada rukyatul hilal. Jika tanggal 15 Juni 2026 M ketika rukyatul hilal dilaksanakan dan hilal tidak bisa dilihat maka awal Muharram 1448 H jatuh pada tanggal 17 Juni 2026 M. Sebaliknya jika tanggal 15 Juni 2026 M ketika rukyatul hilal, hilal bisa dirukyat maka awal bulan Muharram 1448 H jatuh pada tanggal 16 Juni 2026 M.
Secara teori dan praktek, ketinggian hilal 4 o sudah bisa di rukyah. Adapun keberhasilan rukyah tidak semata ditentukan oleh ketinggian hilal dan sudut elongasi akan tetapi ditentukan juga oleh kondisi langit saat rukyah. Jika langit cerah tanpa awan sangat besar kemungkinan hilal terlihat dan sebaliknya jika langit berawan apalagi hujan maka kemungkinan hilal terlihat sangat minim sekali.
Menurut prediksi BMKG, kondisi mayoritas wilayah Indonesia tanggal 15 Juni 2026 M sore hari mayoritas berawan tebal dan hujan ringan. Di wilayah Aceh sendiri kondisi awan sangat tebal dan berpotensi hujan ringan. Kita akan menunggu apakah hilal akan terlihat pada sore tanggal 15 Juni 2026 M di wilayah Indonesia.
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1448.