Janji Setia
Perang AS-Israil vs Iran meletus sejak Sabtu pagi waktu setempat. Perang ini dipicu serangan mendadak AS-Israil terhadap kompleks pemerintahan Iran. Serangan jarak jauh dengan menggunakan rudal balistik antar benua Tomhawk ini mengakibatkan pemimpin tertinggi Iran, Ayatullah Rahullah Ali Khamenei tewas. Tidak hanya Ali Khamenei saja akan tetapi anak, cucu dan penasehatnya juga tewas dalam serangan ini. Tak pelak serangan di Sabtu pagi ini membuat Iran marah dan 30 menit setelahnya Iran membalas membombardir seluruh aset AS di Timur Tengah.
Reaksi Iran yang cepat ini tidak diduga oleh AS-Israil karena dalam perang 12 hari tahun 2025, reaksi Iran tidak secepat ini walaupun tahun 2025 banyak jendral IRGC (garda revolusi Iran) terbunuh. Iran menepati janjinya jika AS-Israil menyerang negara Mullah itu maka semua aset AS di kawasan Timur Tengah akan menjadi target sah. Sabtu pagi itu menjadi bukti Iran menepati janjinya. Bahkan Iran mengatakan bahwa jika AS-Israil menyerang negaranya maka akan ada balasan yang tidak seperti biasanya dan akan menjadi pertempuran terpanjang dalam sejarah Iran.
Iran menyerang semua aset AS di Timur Tengah. Kali ini yang diserang adalah pangkalan militer AS di Arab Saudi, Bahrain, Qatar, UEA, Kuwait dan Oman. AS terkejut dengan serangan yang dilakukan Iran terhadap aset militernya di Timur Tengah. Semua pangkalan AS di Timur Tengah hancur kena serangan rudal Iran. Sebelumnya Iran telah memperingatkan semua negara di kawasan Teluk untuk tidak mengijinkan wilayahnya digunakan AS dalam menyerang Iran. Jika negara Teluk tersebut mengijinkan AS menggunakan wilayahnya untuk menyerang Iran maka negara tersebut sebagai target sah untuk diserang Iran. Benar saja Iran menyerang semua negara Teluk yang menjadi basis pangkalan AS.
Reaksi Iran yang cepat dan berani ini membuat presiden Amerika ketakutan dan meminta negoisasi dengan Iran melalui pihak ketiga yaitu Italia. Akan tetapi apa reaksi Iran? Iran tidak mau bernegosiasi. Serangan pun terus berlanjut. Donald Trump yang memimpin serangan ke Iran mengumumkan bahwa Ali Khemenei tewas dalam serangan AS-Israil tersebut. Sementara pihak Iran masih belum mengakui pernyataan Trump itu dan mengatakan bahwa pimpinan tertinggi Iran masih hidup. Hari Ahad, 01 Maret 2026 Iran menyatakan bahwa pimpinan tertinggi Iran tewas dalam serangan AS-Israil.
Serangan Iran semakin menjadi-jadi dengan memborbardir Israil dan negara kawasan yang menjadi pangkalan militer AS. Bahrain, UEA, Qatar berkali-kali mendapatkan paket rudal dari Iran. Serangan Iran kali ini hanya menyerang pangkalan AS. Radar AS tercanggih di kawasan Timur Tengah sebagai mata militer AS rusak parah dihantam rudal Iran. Radar yang bisa mengendus rudal balistik sejauh 5.000 km itu hancur dan tidak bisa beroperasi lagi. Kapal bantu militer AS juga kena rudal Iran dan tidak bisa berfungsi. Bahkan kapal induk AS menjadi sasaran Iran. Kapal induk AS akhirnya menjauh dari kawasan teluk Persia untuk menghindari serangan rudal balistik dan drone Iran.
Selain Ali Khemenei, anak dan cucunya juga tewas dalam serangan Sabtu pagi itu. Ali Khemenei memang tidak mau berlindung di bunker. Ali Khamenei tetap melaksanakan aktivitas sehari-hari di gedung pemerintahan. Saat serangan Sabtu pagi itu ada rapat khusus antara pimpinan tinggi dengan komandan IRGC. Ali Khamenei juga ditawari Rusia untuk pergi ke Rusia akan tetapi Ali Khemenei tidak mau pergi ke Rusia karena prinsip Ali Khamenei bahwa dia akan dikuburkan di tanah ini -Iran-.
Di pihak Israil, Menteri Pertahanan dan kepala angkatan lautnya juga tewas dalam serangan Iran. Akan tetapi Israil tidak terbuka dan mengakui peristiwa ini. Bahkan Israil melarang semua warga atau siapapun untuk memfoto dan mengabadikan serangan Iran ke negaranya. Yang jelas serangan Iran ke Israil sangat masif dan menimbulkan kerusakan signifikan. Iran juga menyerang sumber air terbesar di Israil. Sampai saat ini, serangan masih terus berlanjut.
Kematian Ali Khamenei membuat suhu politik kawasan panas. Beberapa proksi Iran bergerak angkat senjata melawan AS-Israil. Hizbullah, Jihad Islam dan Houthi mengatakan bahwa akan menyerang Israil. Bahkan Iran akan mengirim pasukan darat ke Israil. al-Qaeda yang katanya membela kepentingan Islam ternyata memihak AS-Israil. Kali al-Qaeda jelas memihak AS-Israil. Yaman dan Irak jelas mendukung Iran melawan AS-Israil. Iran telah menutup selat Hormuz yang menjadi urat nadi perdagangan di kawasan Teluk. Akibatnya semua kapal tidak bisa lewat selat Hormuz. Iran mentargetkan semua kapal AS dan Israil.
Kabar terakhir Prancis, Jerman dan Inggris turun dalam perang ini. Ketiga dedengkot Eropa itu ambil bagian dalam menyerang Iran. Wajar saja ketiga negara tersebut turun gelanggang karena mereka adalah sekutu AS. Kali ini Iran direbut oleh negara-negara besar. Tidak satupun negara di kawasan teluk yang membela Iran. Hanya Yaman yang berani secara terbuka mendukung Iran.
Perang ini akan berkepanjangan. Sumber daya Iran telah disiapkan untuk perang panjang menghadapi AS-Israil. Sementara di pihak AS, perang ini akan berdampak serius terhadap ekonominya jika berkepanjangan. AS tidak lagi mempunyai pangkalan di Timur Tengah. Semua pangkalannya hancur sehingga jika membutuhkan pasukan untuk menyerang Iran harus dari jarak jauh. Menyerang Iran dari jarak jauh ini membutuhkan sumber daya banyak. Menurut beberapa pengamat, AS akan babak belur dalam perang kali ini karena tidak ada kesiapan sama sekali. Donald Trump memandang Iran seperti Venezuela yang akan takluk begitu saja. Faktanya Iran memberikan perlawanan yang tidak diduga-duga.
Israil menjadi bulan-bulanan Iran. Para pejabatnya mengungsi ke luar negeri untuk menyelamatkan diri. Netanyahu sudah pergi ke Jerman untuk menyelamatkan diri sementara pejabat lainnya tidak pernah kelihatan dan diduga sudah berada di Eropa semua. Jika proksi Iran bergerak dan Iran benar mengirim pasukan darat ke Israil maka Israil bisa dikuasai oleh Iran. Kita akan menunggu jalannya perang kali ini. Iran bukan negara yang mudah ditundukkan. Persia adalah lambang keberanian dalam melawan semua ketidakadilan. Kerajaan terkuat dunia saat itu takluk terhadap Persia. Apakah AS kali ini akan takluk dengan Iran. Terlalu dini untuk menyimpulkan.
AS kali ini pontang-panting dalam menyerang Iran. Pesawat tercanggihnya harus bolak-balik sejauh ribuan kilometer dalam menyerang Iran. Pesawat B-52 yang digadang-gadang sebagai pesawat super canggih di planet ini, harus bolak-balik menyerang Iran karena pangkalan militernya di Timur Tengah hancur. Bagaimana dengan Israil? Tidak satupun serangan keluar dari negara Yahudi ini. Semua serangan dilakukan oleh Amerika. Israil sendiri porak poranda. Israil bukan lawan tanding Iran. Buktinya dalam perang 12 hari tahun 2025 kemarin, Israil minta Amerika untuk membujuk Iran agar tidak lagi menyerang negaranya. Akhirnya Amerika menyerang Iran dan setelah itu tidak ada lagi serangan ke Israil. Kali ini lawan Iran bukan Israil tapi AS. Apakah AS mengalahkan Iran atau sebaliknya. Apakah perang ini akan menjadi pemicu perang dunia? Kita tunggu saja.