Hari Kebangkitan Nasional
Hari ini, 20 Mei 2026 kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-118. Begitu tuanya peringatan hari kebangkitan nasional kita hari ini. Pertanyaannya apakah benar kita sudah bangkit? ataukah kita pernah bangkit akan tetapi terpuruk lagi, lemah dan tidak berdaya? Mengapa momentum setiap tanggal 20 Mei ini kita selalu memperingati Hari Kebangkitan Nasional? Apalagi di sekolah-sekolah, madrasah, kementerian dan lembaga negara memperingati dengan upacara bendera, bahkan ada yang mensyaratkan uniform peserta upacara memakai pakaian adat. Begitu pentingkah momentum tanggal 20 Mei itu bagi rakyat Indonesia?
Hari Kebangkitan Nasional itu diperingati setiap tanggal 20 Mei bertepatan dengan berdirinya Budi Utomo yaitu organisasi pelopor pergerakan nasional Indonesia. Budi Utomo didirikan oleh pelajar sekolah kedokteran STOVIA yang dipelopori oleh Dr. Soetomo. Budi Utomo inilah yang menjadi perintis perlawanan rakyat Indonesia terhadap imperialisme dan kolonialisme Belanda di tanah air. Momentum perjuangan perlawanan terrhadap penjajah Belanda digelorakan oleh para pelajar Indonesia yang belajar di sekolah STOVIA ini.
Budi Utomo menginspirasi pemuda Indonesia untuk mendirikan organisasi perlawanan terhadap penjajah Belanda. Perlawanan terhadap penjajah Belanda yang semula sporadis dan kedaerahan menjadi perlawanan organisatoris dan serempak di seluruh Indonesia. Tak lama setelah Budi Utomo berdiri, lahirlah gerakan lain yang sama dengan Budi Utomo seperti Syarikat Islam, ISDV, Jong Java, Indische Partij, Perhimpunan Indonesia dan lain sebagainya.
Pada tanggal 20 Mei 1948, presiden Soekarno memperingati hari kebangkitan Nasional pertama kali di Yogayakarta yang saat itu Indonesia menghadapi agresi militer Belanda ke-2. Untuk membangkitkan perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme Belanda maka presiden Soekarno menggelorakan persatuan bangsa dengan memperingati Hari Kebangkitan Nasional.
Momentum peringatan hari kebangkitan nasional adalah untuk melawan penjajah dan membebaskan rakyat Indonesia dari imperialisme dan kolonialisme yang menyengsarakan rakyat Indonesia. Masa kebangkitan nasional pertama adalah kebangkitan perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme-impereliasme yaitu masa pra kemerdekaan. Kemudian kebangkitan nasional yang kedua adalah ketika perlawanan rakyat Indonesia terhadap agresi militer Belanda ke-2 yaitu masa mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Masa kebangkitan nasional ketiga adalah ketika rakyat Indonesia menumbangkan rezim otoriter-militeristik Orde Baru. Tumbangnya Orde baru ditandai dengan mundurnya presiden Soeharto dari kursi kepresidenan dan diganti oleh wakilnya yaitu BJ. Habibie. Saat itu bertepatan dengan tanggal 21 Mei 1998. Tanggal 20 Mei 1998 adalah momentum kebangkitan rakyat Indonesia melawan otoritarianisme Orde Baru yang ditandai dengan puncak aksi massa rakyat Indonesia menguasai gedung DPR-MPR sebagai simbol kekuasaan rakyat. Pasca tumbangnya orde baru dan kebangkitan nasional yang ketiga ini belum pernah ada kebangkitan rakyat Indonesia sampai saat ini.
Pertanyaannya sekarang apakah memang kita sudah benar-benar bangkit dan rakyat terbebas dari penjajahan neo imperialisme dan neo kolonialisme. Menurut pembacaan para pengamat baik ekonomi maupun politik kondisi negara saat ini sangatlah memprihatinkan baik dari segi politik maupun ekonomi. Ekonomi kita hancur-hancuran. Bagaimana tidak hancur? kurs rupiah melampaui kurs rupiah ketika jaman reformasi 1998. Kurs rupiah saat ini Rp. 17.600 per $1 USD. Padahal ketika jaman reformasi 1998 kurs rupiah Rp. 17.000 per $1USD. Ini menandakan bahwa ekonomi kita tidak baik-baik saja. Walaupun presiden mengatakan bahwa rakyat tidak perlu dolar, rakyat tidak butuh dolar. Memang benar rakyat tidak perlu dolar akan tetapi semua kebutuhan pokok yang berasal dari luar negeri alias import harganya melambung tinggi dan tidak mampu lagi dibeli oleh rakyat. Contoh kecil adalah harga plastik dan kedelei yang merupakan bahan baku tempe. Tempe sekarang mahal karena kedelai import. Ini baru satu kasus, belum kasus yang lain.
Tidak hanya kondisi ekonomi saja akan tetapi kondisi perpolitikan tanah air juga tidak baik-baik saja. Lihatlah politik luar negeri kita yang kelihatan condong sekali ke blok Barat (Amerika dkk). Indonesia yang katanya berpolitik bebas aktif kenyataannya lebih condong ke blok Barat. Tidak hanya itu politik dalam negeri pun juga tidak sesuai dengan harapan bangsa ini. Menurut para pengamat politik, kepemimpinan sekarang lebih ke rezim otoriter nyaris menyamai orde baru. Bagaimana tidak otoriter? jika ada pengamat atau politisi atau rakyat yang mengkritik jalannya pemerintahan ternyata bukan diterima dengan baik dan dijadikan sebagai masukan akan tetapi mereka diintimidasi bahkan kalau perlu dihilangkan nyawanya. Lihatlah diberbagai macam berita media cetak, media online maupun media sosial banyak sekali suara netizen yang menyuarakan kondisi bangsa saat ini akan tetapi pemerintah seakan tidak mau tahu.
Saat ini adalah momentum untuk kebangkitan rakyat Indonesia ke-empat. Kebangkitan rakyat Indonesia ke-empat adalah kebangkitan Indonesia menuju negara makmur dan negara maju. Kebangkitan milineum kedua ini adalah momentum untuk memajukan rakyat Indonesia di segala bidang. Sayangnya kebangkitan ini layu sebelum berkembang. Hasil kebangkitan nasional ke-3 tidak bisa membawa Indonesia maju. Sebaliknya Kebangkitan Nasional Indonesia ke-3 membuat Indonesia mundur. Tatanan kenegaraan kita hancur lebur dirusak oleh para politisi busuk yang haus kekuasaan. Kebangkitan nasional ke-3 yang ditunggangi oleh para politisi yang haus kekuasaan sehingga tatanan kenegaraan kita tidak sesuai dengan cita-cita reformasi. Legislasi dibuat dengan seenaknya sendiri dan menguntungkan pengusaha dan politisi. Pengakan hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Masih banyak lagi tatanan kenegaraan yang tidak sesuai dengan cita-cita reformasi.
Apalah artinya memperingati hari kebangkitan nasional jika ruh hari kebangkitan nasional itu sendiri hampa. Peringatan hari kebangkitan nasional hanya sebatas seremonial untuk mengingat sejarah perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme dan imperialisme penjajah Belanda di Indonesia. Semoga muncul benih-benih kebangkitan nasional ke-empat yang membawa bangsa ini menuju bangsa yang maju, makmur dan sejahtera.