Hari Ibu
Hari ini, 22 Desember 2025 diperingati sebagai hari ibu. Mengapa ada peringatan hari ibu sementara tidak ada peringatan hari ayah. Bahkan kemarin ketika momentum pengambilan raport siswa ada gerakan ayah mengambil raport alias Gemar. Biasanya yang mengambil raport anak adalah ibu bukan ayah. Lawan kata ibu adalah bapak bukan ayah. Lawan kata ayah adalah bunda. Begitulah bahasa Indonesia kita.
Kembali ke hari Ibu. Mengapa tiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai hari ibu? Penetapan tanggal 22 Desember 2025 sebagai hari ibu tidak terlepas dari sejarah perjuangan bangsa ini yang dilakukan oleh para emak-emak itu. 97 tahun yang lalu tepatnya, 22 Desember 1928, kaum perempuan Indonesia mengadakan konggres perempuan I di Yogjakarta. Konggres perempuan I inilah yang dijadikan momentum untuk memperingati hari ibu se-Indonesia. Penetapan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu didasarkan pada Keputusan Presiden Soekarno nomor 316 tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Mengapa diperlukan adanya hari ibu? Salah satu argumentasinya adalah untuk menjaga api semangat perjuangan kaum perempuan dalam melawan penjajah.
Peranan kaum perempuan dalam perjuangan kemerdekaan sudah sangat jelas sekali. Bagaimana dengan peranan kaum perempuan dalam mengisi kemerdekaan? Ketokohan dan peranan kaum perempuan dalam mengisi kemerdekaan memang masih kalah jauh dengan kaum bapak-bapak. Sebenarnya tidak perlu untuk mendikotomi antara peranan kaum perempuan dan kaum laki-laki. Akan tetapi faktanya dikotomi peranan itu masih ada dan sangat kentara sekali. Gerakan feminisme, gerakan emansipasi perempuan adalah bukti bahwa masih ada dikotomi peran antara laki-laki dan perempuan. Kaum perempuan seakan masih dibawah bayang-bayang kaum lelaki. Perempuan dianggap sebagai konco wingking. Domestifikasi -perempuan hanya di rumah- perempuan dianggap begitu kuat di masyarakat kita sehingga diperlukan gerakan agar tidak terjadi kasus domestifikasi perempuan. Gerakan agar perempuan tidak hanya mengurusi urusan rumah tangga begitu massif bahkan sampai menggugat dogma fiqih Islam yang sudah mapan. Para feminis menggugat agar imam sholat tidak hanya laki-laki saja akan tetapi perempuan juga bisa menjadi imam bagi kaum lelaki. Bagi kaum gerakan perempuan, struktur masyarakat tidak menguntungkan kaum perempuan karena struktur masyarakat sangat patriarkal (kaum lelaki). Dari sinilah ketidakadilan itu muncul bagi kaum perempuan.
Sekarang sangat jauh berbeda. Di beberapa sektor, perempuan sudah menjadi pimpinan bahkan perempuan juga bisa menjadi presiden, perdana menteri. Lihatlah banyak perempuan yang memegang peran kunci dalam pembangunan sebuah negara. Perempuan tidak lagi tersubordinasi akan tetapi perempuan sudah memainkan peran yang melebihi laki-laki. Populasi perempuan pun sudah mengalahkan populasi laki-laki. Bukan tidak mungkin satu dekade yang akan datang kaum perempuan menguasai semua lini.
Apakah nanti kalau perempuan sudah menguasai semua lini kehidupan masih diperlukan hari ibu? Sejarah itu bagaikan roda yang selalu berputar. Suatu saat ada di atas. Lain waktu ada dibawah. Begitulah kehidupan. Selalu berputar seperti putaran bumi terhadap matahari. Selamat Hari Ibu.